728x90 AdSpace

  • Latest News

    09 May 2010

    Reading Groups Minggu Keenam Max Havelaar



    Oleh Ubaidilah Muchtar

    Orang Jawa sesungguhnya petani. (Multatuli)
    Sesungguhnya, mereka membawa tugas mulia. Untuk menegakkan keadilan, untuk melindungi yang rendah dari yang diagungkan, untuk mempertahankan yang lemah dari yang kuat, untuk menuntut pengembalian kambing—anak kambing dari seseorang yang miskin dari kandang para perampok berkedok bangsawan .... (Multatuli)

    Aku ingin kembali menuliskan catatan Reading Groups Max Havelaar. Ya, ini dia catatan Reading Groups Minggu Keenam Novel Max Havelaar. Di Minggu keenam ini para peserta menyelesaikan bab 5. Bab yang mulai bercerita tentang Lebak. Lebak yang akan menjadi tempat tugas baru bagi seorang Asisten Residen. Bab yang dimulai dengan suasana keramaian di jalan yang menghubungkan Pandeglang dan Lebak. Bab yang berisi kehidupan sederhana para petani. Bab yang juga berisi kehidupan mewah Bupati. Bab yang mengubah kehidupan petani dari sederhana menjadi makin sengsara. Bab yang mengubah kehidupan mewah Bupati menjadi makin serakah.
    Kehidupan Bupati yang mewah pada akhirnya membutuhkan biaya besar. Pemerintah Belanda mengetahui hal ini dan menaikkan penghasilannya tetapi Bupati masih mengalami kesukaran keuangan dan harus menutupi kekurangannya yang besar. Keadaan ini terutama karena mereka masih hidup laksana raja, mau membeli segalanya, dan diperparah dengan sikap orang Eropa yang menyalahgunakan sifat-sifat tersebut.

    Bupati tidak jarang dengan sewenang-wenang mempergunakan tenaga dan barang kepunyaan rakyatnya meskipun mereka telah mendapat gaji tetap. Padahal para bupati telah mendapatkan semacam hadiah yang sebanding dengan penghasilan daerahnya: kopi, gula, nila. Ada lagi yang dia dapat dari kompensasi atas hak pemindahan ke pemerintah Belanda. Jika diingat betapa serakah dan rakusnya sifat bupati itu.

    Apa yang didapat rakyat? Rakyat mendapatkan kelaparan. Orang-orang asing dari Barat telah menjadikan tanah milik rakyat —orang Jawa adalah petani— sebagai tanah mereka. Dengan keinginan mendapatkan untung dari kesuburan tanahnya mereka memerintahkan rakyat untuk menanam barang yang laku di pasaran Eropa dan menugaskan para Bupati mengawasinya. 

    Pemerintah memaksa dia untuk menanam di lahannya apa yang disukai pemerintah; dia mendapat hukuman jika menjual hasil panennya yang melimpah pada pihak lain kecuali pemerintah; dan pemerintah menetapkan harga belinya. Biaya transportasi ke Eropa, melalui perusahaan dagang yang istimewa, begitu tinggi. Uang yang diberikan pada pemimpin untuk mendorong mereka membuat harga melambung lebih tinggi, dan ... karena, betapapun, seluruh usaha harus menghasilkan laba ini hanya cukup untuk membuat para orang Jawa itu tidak kelaparan, yang dapat menimbulkan penurunan tenaga produksi negara itu. Para pejabat Eropa juga memperoleh bonus bagian produksi. (hal. 81-82).

    Betapa beratnya beban yang harus ditanggung rakyat. Betapa rakyat yang miskin tetap saja miskin. Rakyat yang sederhana yang hidup tentram dengan sawah dan kerbaunya kini harus hidup menderita. Harus hidup dengan siksaan ganda. Siksaan  dari penjajah dan siksaan dari pejabat pribumi. Pejabat pribumi yang menjadi jongos penjajah. Pejabat pribumi yang berlaku perampok dengan berkedok bangsawan.

    Kehidupan sederhana petani mengawali reading groups minggu ini. Reading Groups Minggu Keenam, Selasa, 27 April 2010. Siti Alfiah membaca paragraf ini dengan lancar. Dedi Kala, Pepen, Anisah, Sanadi, Pipih, Siti Nurajijah, Mariah, Rohanah, dan aku menyimak bacaan Siti Alfiah.
    Dia menghitung tahun melalui masa panen, dia merinci waktu dan musim melalui warna tanamannya, dia merasa nyaman di antara para taulan yang memanen padi bersamanya, dia mencari istri di antara para gadis desa yang pada malam hari, dengan suara nyaring riang, memukul padi untuk melepas sekamnya... miliki sepasang kerbau untuk menarik bajaknya adalah hal ideal yang memikatnya... singkatnya, beras bagi orang Jawa seperti anggur bagi petani anggur di sepanjang Rhine dan selatan Prancis. (hal. 81).

    Bagi mereka—peserta reading—kehidupan seperti itu adalah keseharian. Di sekitar Ciseel, Cigaclung, Ciparahu, Cikadu, dan Babakan Aceh kehidupan yang ditampilkan pada paragraf di atas hingga kini masih ada. Maka pembacaan paragraf ini seperti melihat keseharian mereka.

    Aku kemudian meminta peserta yang lain untuk membaca bergiliran. Paragraf demi paragraf. Mendiskusikan paragraf yang telah dibaca. Kemudian membaca paragraf berikutnya dan mendiskusikannya. Bebarapa kata dan kalimat yang tak dimengerti peserta diskusi aku mencoba menjelaskan dan memberikan contoh. Sedapat mungkin dengan bahasa yang mudah dipahami mereka. Sedapat mungkin dengan contoh yang mudah dan dekat dengan kehidupan mereka.

    Paragraf berikutnya bercerita tentang kedatangan orang-orang asing dari Barat. Orang Barat yang kemudian mengubah kehidupan para petani. Orang Barat yang dibantu para Bupati menakut-nakuti dan memperburuk kehidupan para petani.

    Ketika sampai di paragraf berikut para peserta makin sadar. Sadar akan kekejaman para penguasa. Para penguasa yang selalu saja memperdaya rakyat.
    "Wah, jahat ya!"
    "Jahat sekali."
    "Ih, masa sampai minta anak segala. Tega!"
    "Pemimpin aneh."
    Masih banyak lagi kata-kata yang keluar dari peserta. Paragraf yang dimaksud tersebut adalah ini.

    Menurut sebuah ide yang umumnya dipegang di hampir seluruh benua Asia, bawahan, dengan semua miliknya, merupakan milik Pangeran. Para keturunan atau kerabat dari Pangeran sebelumnya dengan senang hati memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat, yang tidak begitu mengerti bahwa Tumenggung atau Adipati atau Pangeran sekarang adalah pemimpin bayaran, yang telah menjual haknya sendiri serta hak mereka untuk memperoleh pendapatan tetap. Oleh karena itu para pekerja berupa rendah di perkebunan kopi atau tebu harus mengambil alih pajak yang sebelumnya ditarik oleh tuan mereka dari pemilik tanah. Maka, bukan hal yang aneh jika ratusan keluarga harus didatangkan dari jauh untuk bekerja, tanpa bayaran, di lahan milik Regen. Bukan hal yang sangat aneh pula mengenai persediaan gratis, makanan untuk istana Regen. Dan apabila ada kuda, kerbau, putri, anak dari orang biasa yang menarik perhatian Regen, belum pernah terjadi seorang penguasa meninggalkan objek yang diinginkan itu tanpa sayarat. (hal. 83)  

    Para peserta menarik napas dalam-dalam. Aku melanjutkan proses pembacaan. Pembacaan memasuki paragraf di mana rakyat harus bekerja dengan tanpa bayaran. Rakyat dari jauh didatangkan ke alun-alun. Di alun-alun mereka harus bekerja membersihkan rumput dan mengembalikan ke kondisi semula. Kondisi yang diinginkan Regen mereka. Mereka juga harus bekerja di sawah-sawah yang letaknya jauh. Mereka harus membuat saluran air untuk sawah tersebut. Sawah tersebut milik Regen (Bupati). Jadi, kapan mereka harus mengolah sawah mereka jika mereka harus terus bekerja untuk Bupati.

    Penyalahgunaan kekuasaan ini sangat sukar dibasmi. Penyebabnya karena sudah berakar di masyarakat. Masyarakat yang sudah sejak dulu harus menanggung akibatnya. Rakyat yang menderita tidak banyak yang mau menjadi saksi. Tidak banyak yang berani melawan Regen yang seram. Regen yang seram yang ternyata sering tidak terbukti mengambil kuda, kerbau, anak gadis rakyatnya sebab yang mengambil adalah kaki tangannya. Tentu saja Regen yang memerintahkannya.

    Pembacaan tiba di pargraf terakhir. Pipih membaca dengan pelan.

    Maka tampaknya hampir merupakan kesulitan yang tak tertanggulangi untuk dapat mencegah para pejabat untuk memelihara sumpahnya "untuk melindungi masyarakat pribumi dari eksploitasi dan pemerasan".

    "Masyarakat pribumi itu apa?" tanya Rohanah.
    "Masyarakat pribumi itu masyarakat asli orang Indonesia. Masyarakat yang bukan penjajah. Orang Jawa atau orang Indonesia." Penjelasanku.
    "Ekspolitasi itu artinya apa?" tanya Mariah.
    "Eksploitasi itu mengambil, mengeruk, memanfaatkan dengan sebesar-besarnya. Mengambil dengan serakah tanpa perhitungan. Memeras hingga habis-habisan." Jelasku.

    Aku menutup reading groups minggu keenam ini. Waktu hampir malam. Semua bersiap. Sebelum pulang aku minta foto bersama di depan spanduk di depan Taman Baca Multatuli. Kusampaikan terima kasih atas kehadiran mereka. Kusampaikan bahwa reading groups minggu ketujuh akan dilaksanakan hari Jumat bukan Selasa. Jumat tanggal 7 Mei 2010. Kusampaikan juga alasan pemindahan waktu reading untuk minggu ketujuh tersebut.

    Suara-suara alam mengalun di sekitar kampung. Suara yang tak akan ditemukan di kota-kota besar.  Malam makin gelap. Kampung menjadi gelap. Semilir angin malam menerpa wajahku. Aku menutup pintu. Menutup jendela. Menutup kain penutup jendela. Merapikan buku. Mengingat wajah-wajah. Wajah-wajah yang selalu riang. Wajah anak-anak desa yang haus hiburan, haus pengetahuan, haus ilmu, haus bacaan. Wajah anak-anak yang tidak pernah tahu kota. Tidak pernah meninggalkan kampung ini. Kampung Ciseel.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Reading Groups Minggu Keenam Max Havelaar Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top