728x90 AdSpace

  • Latest News

    23 April 2011

    Catatan Reading Groups Minggu Ke-32 Novel Max Havelaar

    Oleh Ubaidilah Muchtar
    Beberapa anak yang bersekolah di Cigaclung harus merelakan kesempatannya untuk tidak bersekolah lagi. Jika musim lebaran tiba ada saja anak yang terbawa kardus. Begitu orang di sana mengatakan. Terbawa kardus berarti bekerja di Jakarta. Sekarang memang jumlahnya makin sedikit. Namun belum dapat dikatakan tidak ada. Orang tua yang kurang mengerti betapa anak mereka menikmati belajar di sekolah akan merelakan jika ada yang ingin membawa anaknya ke Jakarta. Kemiskinan membuat orang tua merenggut anak-anak mereka di saat sedang sekolah. Multatuli pernah menulis.
    Kelaparan? Di tanah Jawa yang kaya, subur, dan penuh berkah—kelaparan? Ya, pembaca. Baru beberapa tahun lalu, seluruh daerah meninggal akibat kelaparan. Para ibu menjual anak mereka untuk memperoleh makanan. Para ibu memakan anak mereka… [MH, hlm. 82]
    Rohani, Yayah, Jani, Murhanah, Nining, Uni, Siti Masitoh, Rumnayah adalah sedikit dari banyak nama yang terbawa kardus di saat musim lebaran tiba. Yayah dan Jani kini kembali bersekolah setelah dibujuk para guru dan orang tua mereka datang kembali ke sekolah dan mengungkapkan kekhilafannya. Sementara yang lain meskipun tidak betah di Jakarta dan kembali ke Lebak tidak berhasil dibujuk untuk kembali ke sekolah.
    Daerah Lebak adalah daerah miskin dan jelas tercermin dalam kisah Saijah dan Adinda. penyalahgunaan kekuasaan oleh bupati sering terjadi karena mereka haus kekuasaan. Haus wibawa. Gila hormat dan kekayaan. Mereka perlu menyesuaikan gaya hidup sebagai pimpinan dan bangsawan. Para pembesar itu hidup mewah yang sudah menjadi kebiasaan dan seakan-akan mendarah daging, yang memang sudah mereka lakukan sejak dulu-dulu. Dan mungkin hingga saat ini. Rakyat lalu yang menjadi korban. Rakyat yang miskin semakin miskin. Rakyat yang sengsara semakin sengsara.
    Havelaar menyaksikan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan Adipati Karta Nata Negara dan menantunya Wiranatakusumah, Demang Parangkujang. Pembesar-pembesar ini dengan seenaknya memerintahkan rakyat untuk bekerja di tanah-tanah mereka, di kandang-kandang kuda mereka, di pekarangan-pekarangan rumah mereka, tanpa memberi upah sedikit pun. Havelaar lalu menulis surat namun surat yang ditulisnya tentu saja rahasia sifatnya. Masalahnya karena Havelaar mencium kejanggalan atas kematian Slotering, Asisten Residen Lebak yang digantikannya.
    Slotering yang digantikan oleh Havelaar sebenarnya bernama Carolus. Carolus meninggal karena dia memiliki catatan penyalahgunaan kekuasaan dan kejahatan yang dilakukan Adipati Lebak Karta Nata Negara dan Demang Parangkujang Wiranatakusumah.
    “…. Ayolah, Ny. Slotering, beritahu saya dengan terus terang mengapa Anda begitu mengawasi pekarangan ini?”
    Havelaar menatapnya, dan dengan sia-sia mencoba membaca jawaban dari matanya yang basah. Dia menekan agak terlalu keras untuk sebuah penjelasan… jandi itu mulai berlinang air mata, dan berkata bahwa suaminya telah diracun di Parangkujang, di rumah pemimpin distrik.
    “Dia ingin bersikap adil, Tuan Havelaar,” lanjut wanita malang itu, “dia ingin menghentikan perlakuan buruk yang membuat masyarakat sangat menderita. Dia memperingatkan dan mengancam pemimpin, saat pertemuan dan dengan tulisan… Anda pasti sudah menemukan suratnya di dokumen?”
    Itu benar. Havelaar telah membaca surat-surat itu, salinan yang terletak di hadapan saya. [MH, hlm. 341]
    Istri Slotering yang meninggal adalah wanita pribumi. Ny. Slotering sama sekali tidak dapat berbahasa Belanda. Hal ini yang menyebabkan Ny. Slotering dapat bergaul lebih akrab dengan penduduk. Sementara suaminya yang meninggal dapat berbicara dalam bahasa daerah Lebak seperti pribumi saja. Menurut keterangan Ny. Slotering, beberapa jam sebelum meninggal, Carolus habis makan siang di rumah kediaman Demang Parangkujang. Dan menurut keterangan, memang di masa itu tidak jarang terjadi pembunuhan-pembunuhan terhadap pegawai Belanda oleh pejabat pribumi, dengan menggunakan jenis racun, yang di masa itu masih belum ditemukan oleh dokter-dokter bangsa Eropa.
    “…Saat itu bulan November. Tidak lama setelahnya dia menjalankan sebuah kunjungan pengawasan, dan makan siang di rumah Demang Parangkujang, dan dibawa pulang dalam keadaan yang menyedihkan. Dia tidak melakukan apa pun kecuali menunjuk perutnya dan berteriak: “Panas, panas!” dan beberapa jam kemudian dia meninggal. Padahal dia selalu tampak sehat!” [MH, hlm. 341-342]
    Havelaar kemudian menulis surat kepada dokter yang memeriksa mayat Carolus. Dokter tersebut mengatakan bahwa Carolus meninggal karena “pembengkakan hati”. Padahal menurut keterangan istrinya, Carolus selalu tampak sehat hingga akhir hayatnya. Dokter yang mengobati tentu saja dokter yang cakap, namun masih bisa melakukan kesalahan dalam menilai gejala-gejala penyakit, kaget karena dia mencurigai perbuatan jahat.
    “Apa pun itu, saya tidak bisa membuktikan bahwa, pendahulu Havelaar telah diracun, karena waktu tidak mengizinkan Havelaar untuk menjelaskan masalah itu. Tapi saya jelas bisa membuktikan bahwa tanda-tanda yang ada di dirinya menunjukkan bahwa dia telah diracun, dan itu semua menghubungkan kecurigaan mereka dengan keinginannya untuk menentang ketidakadilan.” [MH, hlm. 343]
    Sebetulnya Verbrugge alias Kontrolir Van Langeveld van Hemert juga sepertinya mengetahui kematian Carolus. Kontrolir Van Hemert juga merasa takut diracun apabila bertindak melawan Adipati Karta Natanagara. Berikut ini dialog antara Havelaar dengan Van Hemert alias Pengawas Verbrugge.
    “Tuan Slotering meninggal karena apa?”
    “Saya tidak tahu.”
    “Apa dia diracun?”
    “Saya tidak tahu, tapi…”
    “Bicaralah, Verbrugge!”
    “Dia berusaha menghentikan penyalahgunaan kekuasaan di sini, Tuan Havelaar, seperti Anda, dan… dan… dan…”
    “Ya? Lanjutkan!”
    “Saya yakin bahwa dia… akan diracun jika dia berada di sini lebih lama lagi.”
    “Tulis itu!”
    Verbrugge menulis apa yang telah dia katakan: itu terletak di hadapan saya!
    “Hal lain. Apakah benar, atau tidak benar, bahwa masyarakat ditekan dan dimanfaatkan di Lebak?”
    Verbrugge tidak menjawab.
    “Jawab aku, Verbrugge!”
    “Saya… tidak berani.”
    “Tulis, kalau begitu, bahwa kau tidak berani!”
    Verbrugge menuliskannya: itu terletak di hadapan saya.
    “Bagus! Sekarang hal lain: kau tidak berani menjawab pertanyaan terakhirku, namun baru-baru saja, ketika ada pembicaraan mengenai masalah meracuni, kau berkata bahwa kau adalah satu-satunya tulang punggung saudara perempuanmu di Batavia, bukan? Apakah itu mungkin menjadi alasan atas ketakutanmu, akar dari apa yang selalu saya sebut sikap setengah hatimu?”
    “Ya!”
    “Tulis itu.”
    Verbrugge menulisnya: pernyataannya terletak di hadapan saya.
    “Baik,” kata Havelaar, “sekarang aku cukup paham.” Dan Verbrugge dipersilahkan pergi.
    Selepas pembicaraan tersebut,Verbrugge keluar ke beranda dan bermain dengan Max kecil. Saat itu Verbrugge mencium Max kecil dengan lebih lembut dari biasanya. Havelaar terlihat mempersilakan Ny. Slotering yang hendak kembali ke rumahnya. Ketika Ny. Slotering pergi, Havelaar menepikan Max kecil dan memanggil istrinya, Tina ke dalam ruangan.
    “Tina sayang, ada yang ingin aku pinta. Aku ingin kau dan Max pergi ke Batavia: hari ini aku akan mengajukan tuduhan pada Regen.” [MH, hlm. 344]
    Mendengar permintaan Havelaar, Tina langsung melingkarkan lengannya di leher Havelaar. Dan untuk pertama kalinya Tina menolak mematuhi permintaan Havelaar. Tina lalu menangis tersedu dan berkata:
    “Tidak, Max, tidak, Max, aku tidak mau… aku tidak mau! Kita akan makan dan minum bersama!” [MH, hlm. 344]
    Havelaar tentu saja sangat menghormati Adipati Karta Nata Negara alias Regen sepuh. Havelaar bahkan sering membantu adipati dalam soal-soal keuangan, apabila adipati memerlukan persekot misalnya, selalu ia memberinya. Bahkan Havelaar pernah mengirimkan uang tanpa diminta.
    Bahkan beberapa hari menjelang kunjungan Adipati Cianjur dan rancangan pesta pora yang berhubungan dengan kunjungan itu, Havelaar masih bertanya kepada adipati, apakah ia (Havelaar) barangkali dapat memberikan sekadar bantuan yang sekiranya diperlukan.
    Namun pada saat itu, Havelaar mengetahui bahwa asisten residen sebelumnya meninggal tidak wajar. Havelaar mendengar tentang kasus peracunan terhadap diri Carolus, asisten residen yang digantikannya. Maka Havelaar menulis sebuah surat. Sepucuk surat yang isinya mengadukan adipati. Sepucuk surat yang bersifat rahasia dan dikirim secepatnya kepada Residen Banten, Brest van Kempen di Serang.
    Dalam catatan ini, aku tidak akan menuliskan secara lengkap surat tersebut. Aku hanya akan menuliskan isi pokoknya saja. Surat tersebut bernomor 88 dan bersifat rahasia dan segera. Ditulis Havelaar di Rangkasbitung tanggal 24 Februari 1856. Berikut sebagian isi suratnya.
    …. Bahwa saya menjatuhkan tuduhan pada Regen Lebak, Raden Adipati Karta Nata Negara, atas penyalahgunaan kekuasaan melalui penggunaan tenaga kerja bawahannya secara illegal, dan bahwa saya mencurigai dia atas pemerasan melalui permintaan barang-barang yang bukan berbentuk uang, juga tanpa pembayaran atau untuk ditetapkan secara acak, pembayaran yang tidak mencukupi;
    Terlebih jauh lagi, saya mencurigai menantunya, Demang Parangkujang, sebagai kaki tangan dalam tindakan yang disebut di atas.
    Agar kedua tuduhan itu dipersiapkan dengan baik, saya mengusulkan agar Anda menginstruksikan saya:
    1. Mengirim Regen Lebak secepat mungkin ke Serang, berjaga-jaga agar baik sebelum keberangkatannya maupun selama perjalanan, dia tidak memperoleh kesempatan untuk memengaruhi, melalui penyuapan atau cara lainnya, kesaksian yang seharusnya saya peroleh;
    2. Menahan Demang Parangkujang dalam penjagaan hingga pemberitahuan berikutnya;
    3. Mengambil tindakan yang sama terhadap orang seperti itu, dari tingkat yang lebih rendah yang, karena mereka adalah anggota keluarga Regen, diperkirakan bisa memengaruhi objektivitas pemeriksaan yang diusulkan;
    4. Untuk langsung melaksanakan usulan ini, dan memberi laporan lengkap mengenai hasilnya.
    Saya juga menyarankan agar Anda mempertimbangkan untuk membatalkan kunjungan Regen Cianjur.… [MH, hlm. 345-348]
    Surat tersebut ditulis oleh Asisten Residen Lebak, Max Havelaar. Havelaar yang sampai saat menulis surat tersebut masih menghormati Regen tua tersebut. Dan Havelaar masih merasakan simpati yang dalam untuk Regen tua tersebut. Bahkan Havelaar meminta agar diizinkan dengan pantas untuk meminta situasi yang meringankan atas nama Regen tua karena kedudukannya. Meskipun sebagian besar masalah ini diakibatkan oleh kesalahan Regen tua sendiri.
    Surat tuduhan Havelaar kepada Regen tua yang ditulis 24 Februari 1856 inilah yang mengakhiri pertemuan kami. Pertemuan dalam Reading Group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli. Saat ini pertemuan ke-32 kami, Selasa tanggal 18 Januari 2011. Di pertemuan ke-32 ini ada Mariah, Sumyati, Rohanah, Andi, Unang, Dede, Radi, Irman, Pupuh, Cecep, Sujatna, Yani, Sujana, Mamay, Nuraeni, Oom, Herti, Samnah, Elis, Rukanah, Suryati, Elah Hayati, Sadah Padilah, Ucu Suharnah, dan Siti Nurhalimah.
    Aku akan menuliskan dua kesan peserta yang mengikuti Reading Group Max Havelaar pertemuan ke-32 ini. Rohanah dan Mariah yang akan kutulis kesannya di Selasa sore ini, Selasa, 18 Januari 2011. Rohanah menulis: “Eh ternyata novel Max Havelaar dan kisah Saijah Adinda memberi makna buat kita semua.” Sementara Mariah menulis, “Ny. Slotering tidak mau ada orang masuk ke rumahnya karena dia takut yang masuk ke rumah dia orang-orang jahat.”
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Catatan Reading Groups Minggu Ke-32 Novel Max Havelaar Rating: 5 Reviewed By: mh ubaidilah
    Scroll to Top