Thursday, September 15, 2011

Catatan #8 Saya Jadi Si Kanteh

Cecep:

[Kelas IV SD Negeri 2 Sobang, menjadi Si Kanteh, Adiknya Adinda saat memerankan drama Saijah Adinda. Ini dia catatannya.]

Sabtu, 14 Mei 2011

Bangun pagi. Sarapan pagi. Lalu berangkat ke kota Rangkasbitung, Lebak, menyusuri Multatuli. Saya berjalan kaki dari rumah ke Kampung Cangkeuteuk dengan jarak 4 kilometer. Naik mobil engkel bersama teman-teman termasuk Mas Sigit. Melewati Ciminyak, Kalawijo, Sajira langsung ke Rangkasbitung.

Langsung menuju Aula Multatuli. Di Multatuli makan bersama dengan teman-teman. Kunjungan ke dua ke Rumah Sakit Adjidarmo. Perjalanan ketiga ke rumah Multatuli yang sekarang tinggal tembok yang sudah penuh dengan bekas-bekas tulisan. Perjalanan keempat ke apotek Multatuli. Perjalanan kelima ke SD Multatuli. Perjalanan keenam ke sungai Ciujung. Ketujuh ke perpustakaan Saijah Adinda.

Pulang jam 4 sampai di rumah jam 06.30 malam. Pulang dengan rombongan dengan pakaian basah karena kehujanan.

Malam kegiatan gegendeh, gondang, pencak silat. Semua dimainkan oleh warga masyarakat.

Minggu, 15 Mei 2011

Pergi ke Baduy. Saya tidak ikut sebab kecapekan. Saya agak sakit. Hanya teman-teman yang ikut. Malam hari kegiatan acara penutupan. Dilanjutkan nonton bareng film drama Saijah Adinda. Kami yang main drama hari Jumat. Film kedua judulnya Max Havelaar. Aku merasa senang dan puas. Film Wiro Sableng dan Rhoma Irama. Saya senang sebab di drama saya bisa main sebagai penggembala kerbau. Namanya Si Kanteh.

Sunday, September 11, 2011

Catatan #7 Rumah Multatuli Kosong

Herti:

[Kelas IV MI Al Hidayah Ciseel. Herti peserta paling muda. Coba simak catatan peserta paling muda ini. Coba rasakan! Selamat mencoba dan merasa. Salam Multatuli.]

Pada hari Sabtu

Tgl-14-05-2011 bulan Mei 2011

Hari Sabtu tanggal 14 aku akan ikut jalan-jalan menyusuri jejak Multatuli. Sebelum berangkat aku yoga dulu bersama teman-teman yang akan ikut jalan-jalan. Setelah yoga aku pulang dan ganti baju dan ke rumah Elah. Lalu mengajaknya untuk mengambil kartu peserta rombongan Taman Baca Multatuli.

Pukul setengah delapan aku berangkat bersama teman-temanku di Ciseel. Jalan sampai ke Cangkeuteuk. Lalu aku jalan lagi sampai ke Cengal. Sampai di Cengal ternyata mobilnya sudah menunggu. Lalu aku dan teman-teman naik ke mobil. Lalu berangkat ke Rangkas.

Pas di jalan aku bertemu polisi. Lalu mobilnya berhenti karena dicegat Pak polisi. Namanya Pak Sadimun. Kata Pak Sadimun, “Ini mobil barang, jangan dinaiki oleh manusia nanti bisa bahaya!” Mungkin kata Pak Ubai, “Tidak apa-apa kok, Pak, karena kami sudah diijinkan untuk naik mobil ini.!”

Setelah selesai kami berangkat lagi. Mas Sigit meminta izin kepada Pak Ubai untuk dicarikan mobil lagi agar tidak terjepit oleh teman-teman. Tak lama kemudian mobilnya datang. Lalu teman saya pindah ke mobil yang agak kecil sedikit. Yang pindah adalah Cecep, Pipih, Sangsang yang tadi mabok itu dan yang lainnya.

Setelah beberapa menit datang ke Aula Multatuli. Lalu kami membuka bekal kami dan makan bersama. Tapi aku tidak tertarik pada makananku karena perutku terasa sakit dan mual-mual. Lalu Mas Sigit menghampiriku karena dia mengkhawatirkanku dan Mas Sigit bertanya kepadaku, “Kamu kenapa, Dik. Tidak dimakan bekalnya. Kamu sakit yah?” lalu aku menggeleng. Dan Mas Sigit memberi tahu Pak Ubai kalau aku tidak mau makan. Dan Mbak Leni juga mengasihi aku dan mengoleskannya minyak kayu putih ke perutku.

Setelah itu Mas Sigit memberi uang untuk membeli bakso dan aku membeli bakso bersama Mariam. Sesampai di situ ternyata ada yang ulang tahun. Lalu aku pergi lagi ke Aula Multatuli bersama Mariam. Lalu aku memakan bakso dengan Mariam. Tak lama saya menulis catatan. Lalu saya pergi bersama teman-teman saya untuk melihat rumah Multatuli yang kosong. Dan berangkat lagi untuk ke jalan Multatuli. Lalu saya menyeberang jalan yang jauhnya satu kilometer.

Lalu berjalan lagi ke perpustakaan Saijah Adinda. Setelah itu Mas Sigit membawa gorengan. Lalu dibagikannya ke teman-teman yang lain. Aku dikasih dua. Setelah itu berjalan lagi untuk ke Aula Multatuli. Lalu aku dan yang lainnya berangkat pulang. Pas pulang ternyata hujan. Lalu aku dan yang lainnya nyanyi sepatu gelang.

Sesampai di Cikadu ternyata sudah maghrib. Lalu saya langsung pulang. Lalu aku menyeberangi sungai. Lalu aku meneruskan jalan sampai di rumah sudah setengah tujuh. Lalu saya langsung membuka baju langsung mandi. Selesai mandi saya memakai baju. Lalu aku langsung tidur.

Pada hari Minggu

Tgl-15-05 2011

Bulan-Mei 2011

Pada hari Minggu saya bangun pagi-pagi. Lalu saya mencuci piring dan mencuci pakaian. Tak lama kemudian teman yang lain ikut ke Baduy. Tapi aku tidak akan ikut karena lelah. Setelah itu aku langsung mandi lalu menjemur pakaian. Lalu aku bermain ke rumah Taman Baca Multatuli bersama teman-temanku. Selesai membaca buku komik, aku pulang.

Di rumah aku membantu ibu masak. Selesai masak aku langsung mandi dan teman-temanku. Selesai mandi lalu aku pulang lalu aku memakai baju. Selesai memakai baju, aku makan. Lalu aku ke Taman Baca Multatuli di sana aku membaca buku komik dan yang lainnya.

Setelah itu aku mendengar azan maghrib. Lalu aku berwudhu, sembahyang. Selesai sembahyang aku mengaji sesampai di pengajian aku menghapalkan. Lalu aku pulang dan teman-temanku.

Malamnya aku nonton pilm Saijah Adinda yang dramanya di lapangan MI Al Hidayah Ciseel. Lalu aku pulang bersama ibu dan adik karena aku sudah ngantuk. Sesampai di rumah aku langsung tidur.

Catatan #6 Ini Khusus Catatan Perjalanan Multatuli

Elah Hayati:

[Kelas VI MI Al Hidayah Ciseel. Elah berperan sebagai orang tua (nenek) yang menolong saat Saijah kegilaan karena diketahui Adinda tidak ada di Badur. Ada banyak kejutan dalam catatan Elah. Selamat terkejut-kejut.]

Hari Pertama,

Pada hari Jumat aku nonton Mas Sigit sulap. Ada bermacam-macam sulap. Tapi saya tidak tahu itu sulap apa. Setelah sulap kami berangkat main drama ke MI Al Hidayah Ciseel bersama kawan-kawan. Dan setelah sampai di sana kerbau Saijah sudah menunggu. Dan kami langsung aja main dramanya.

Aku menjadi orang tua yang menolong Saijah. Waktu Saijah kaleleban kaedanan (Tergila-gila kehilangan) oleh Adinda. Dan pemainnya banyak ada Babah, Kanteh—adiknya Adinda, Ibu Saijah, Bapak Saijah, Tuannya Saijah, dan masih banyak lagi.

Hari Kedua,

Ini khusus cerita tentang perjalanan. Hari Sabtu tanggal 14 aku mau jalan-jalan menyusuri jejak Multatuli. Bersama Pak Ubai dan teman-teman Taman Baca Multatuli. Kami berangkat dari Ciseel pukul 07.00. Datang ke Cangkeuteuk setengah delapan. Dan di sana belum ada mobilnya. Kami menerima kabar yang tidak baik. Katanya mobil menunggu di Cengal. Tetapi di Cengal juga tidak ada. Kami harus ke Cepak Gentong.

Kami berlima hampir-hampir terpisah dari teman-teman lain karena capek dan lututku sakit sekali. Dah akhirnya sampai juga di Cepak Gentong. Di sana juga sudah menunggu teman-temanku dan mobilnya. Aku langsung naik dan duduk di sebelah sisi mobilnya. Setelah agak lama dan teman-teman yang lain datang. Mobil langsung berangkat.

Setelah beberapa menit mobilnya berhenti. Kenapa ya? Wah, ternyata ada Pak Ubai di jalan. Setelah semuanya kumpul kami berangkat. Di perjalanan ada yang menyanyi.

Setelah datang ke Aula Multatuli kami makan sebentar dan jalan-jalan ke alun-alun Multatuli. Dan juga ke Pasar Rangkasbitung dan di sana kami menemukan bekas rumah Multatuli. Ada juga SDN Multatuli, rumah sakit, dan apotek. Dan Bapak yang kerja mengasih tahu bagaimana bisa disebut apotek Multatuli. Dan setelah itu kami ke perpustakaan Saijah Adinda. Di sana kami memandang buku tapi tidak membacanya sebab ada di dalam lemari kaca.

Nah, sekarang aku akan menceritakan dari awal!

Waktu kami di foto bersama di lapangan Aula Multatuli. Setelah berfoto kami berkumpul di dekat pendopo sambil berkumpul kami menulis dan ke alun-alun. Pertama aku akan ke bekas rumah Multatuli. Di sana hanya ada satu dinding dan yang lainnya diruntuhkan dan dibuat sebuah rumah sakit. Dan aku juga melihat di dalam rumahnya ada buku-buku yang sudah rusak.

Nah, sekarang di sini! Di SDN Multatuli.

Maaf ya aku tidak menulis dari awal karena balfennya habis. Aku menulis waktu di SDN Multatuli. Cecep yang meminjamkannya balfennya.

Di SDN Multatuli ini kami disambut oleh bapak guru dan mungkin itu kepala sekolahnya. Aku menulis sebentar dan mencuci muka. Lalu aku melihat teman-temanku jajan. Karena haus aku berlari ke sana dan membeli minuman dan biskuit. Elis juga sama membeli minuman. Setelah itu kami balik lagi. Ketika aku melihat di dinding ada sebuah tabel dan aku tertarik. Lalu aku menulisnya. Ada begini tulisannya. “Aku anak yang pandai. Aku anak pintar.” Seketika itu aku ingin menulis gambarnya tapi takut ketinggalan oleh kawan-kawan yang lain.

Ada juga apotek Multatuli. Di sana kami dipersilakan masuk. Sebelum masuk aku membeli apel 2 buah dan ada juga yang membeli strawberry, jambu, jeruk, dan lain-lain.

Lalu kami berjalan lagi dan sampai di Sungai Ciujung yang di sebelah kirinya ada jalan kendaraan seperti motor dan mobil. Dan di sebelah kanannya khusus untuk kereta. Di sana aku melihat sebuah rakit dan penumpangnya. Dan penumpang itu juga mendayung. Di sisi sungai itu ada seorang perempuan dan ternyata itu orgil. Ketika kami mau pulang orgil itu menyewot, “Cepat pergi sana!” katanya. Aku buru-buru lari karena takut. Tapi ternyata tidak apa-apa.

Lalu setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju ke Perpustakaan Saijah Adinda yang merupakan perpustakaan umum. Setelah lama di sana cuaca mendung dan teman-teman semua keluar dari perpustakaan. “Kalian jangan pergi dulu!” kata Pak Ubai. Aku menoleh ada apa. Pak Ubai bilang agar buku kami dimasukkan dalam plastik karena takut kehujanan. Aku mengajak Nuraenun ke lantai sebelah kiri untuk memasukkan buku ke dalam plastik karena takut kehujanan.

Kami berangkat ke Aula Multatuli kembali. Tiba-tiba hujan kami berhenti sebentar di tempat yang teduh. Aliyudin mengasih ke dalam plastik. Lalu berangkat lagi dan…. Akhirnya sampai juga di Aula Multatuli.

Aku segera berlari. Tadinya mau mengambil tasku karena tadi disimpannya bukan di tempat yang teduh. Tetapi sudah ada di pendopo. Aku mengambilnya dan mengelapnya dengan sapu tangan karena agak basah sedikit. Lalu Irman menghampiri. “Elah boleh nggak aku menyimpan bukuku di tasmu?” “Oh, tentu! Cecep juga boleh.” Setelah semuanya beres aku dan kawan-kawan berangkat untuk pulang. Di jalan semuanya bernyanyi.

Sayur nara sayur

Nara sampai berjumpa pulang 2x

Buat apa susah 2x susah itu tak ada

Gunanya

Buat apa bingung 2x bingung itu

Tak ada gunanya

Dan seterusnya. Di mobil aku duduk dan ketika sudah dekat Sajira hujan lebat walaupun hanya sebentar. Lalu terpal yang dipakai duduk itu kami angkat dan dipakai atap agar tidak kehujanan. Ketika aku mau berdiri aku hampir jatuh. Jadi aku duduk aja. Aku duduk di dekat Mbah Jamali. Mbah Jamali itu tamu kami, rombongan Mas Sigit dari Semarang yang datang ke Taman Baca Multatuli.

Oh aku lupa tadi waktu di jalan Sajira. Ada pak polisi yang memberhentikan mobil rombongan kami. Dan katanya mobil ini mobil barang tidak boleh dinaiki manusia. Setelah selesai kami berangkat lagi.

Kita kembali lagi ke cerita yang tadi.

Aku memegang tasku dengan hati-hati karena takut buku perjalananku dan teman-teman yang disimpan di dalam tasku takut basah. Ketika turun di lapangan Cikadu. Aku diturunkan oleh Pak Ubai. Setelah turun dari mobil aku langsung berjalan bersama kawan-kawan. Tak lama kemudian hujan turun sangat lebat. Setelah lama hujan tidak berhenti. Aku membayangkan airnya meluap dan tidak bisa menyeberang. Apalagi teman-temanku ada yang dijemput oleh kakaknya sementara aku tidak ada yang menjemput.

Aku meminta Mariah untuk membawakan sepatuku karena aku sangat repot. Tiba-tiba ada kakak Elis menjemputnya dan aku diajak naik motor. Dan aku pun naik. Di jalan aku melihat teman-temanku basah kuyup sama sepertiku. Dan aku merasa kasihan pada mereka. Dan yang paling aku kasihani adalah Herti. Tapi bukannya aku tidak kasihan sama yang lain karena Herti sangatlah lemah, tadi aja di pendopo Herti tidak mau makan sama sekali.

Setelah datang ke Cikadu kami menyeberang. Untunglah airnya tidak terlalu deras. Aku langsung menyeberang bersama Elis. Kami saling berpegangan tangan dan aku melihat Sangsang terpeleset dan tercebur ke air.

Setelah menyeberang kami naik motor lagi dan berangkat menuju ke Ciseel. Sampai di Ciseel ibuku sudah menunggu karena ia khawatir akan keadaanku. Dan aku langsung mandi. Aku juga menanyakan pada ibu, apakah sudah Magrib dan kata ibuku, sudah. Jadi aku berwudhu dan sembahyang. Setelah selesai sembahyang aku berdoa untuk teman-teman dan juga kwan-kawan dari Jakarta dan yang lainnya yang masih di perjalanan dan untungnya mereka datang dengan selamat.

Setelah itu aku makan dan aku makan dengan kerupuk. Setelah makan aku tidur. Ketika bangun aku melihat ke jendela ada acara dan aku bangun lalu membasuh muka dan melihat acara pencak silat. Setelah lama melihat pencak silat. Aku pulang dan tidur.

Minggu tgl 15

Bangun tidur aku mandi dan berwudhu dan shalat subuh. Setelah itu aku membantu ibu memasak. Setelah mentari mulai kelihatan terang aku menjemur pakaian, ketika aku menjemur pakaian aku melihat teman-temanku mau berangkat ke Baduy.

Aku tidak akan ikut ke Baduy karena kecapean kemarin diguyur hujan yang amat menakutkan. Setelah aku menjemur pakaian aku mencuci lagi dan kali ini mencucuinya lebih banyak dan di sana sudah ada Ucu yang sedang mencuci.

Setelah semuanya beres aku mandi di Sungai Ciseel dan di sana juga ada Cecep dan kawan-kawannya yang sedang mandi.

Selesai mandi aku ganti baju dan menyisir rambut. Lalu makan dengan lahapnya karena cape bereskan rumah. Lalu setelah itu aku istirahat sebentar sambil menunggu Nuraenun dan adiknya, Nani yang setiap hari diasuh di rumahku. Mereka itu adalah saudaraku. Setelah mereka datang aku bersembunyi di kolong dipan dan nantinya aku dikira tidak ada tapi ternyata ada.

Setelah lama kami bermain aku melihat Nani sedang tidur tergeletak di lantai dan aku memindahkannya ke atas tikar di kamarku. Setelah itu aku mengambil baju yang tadi dijemur dan melipatnya di lantai depan. Setelah hari mulai sore aku memasak dan mencuci piring.

Setelah semuanya beres sudah memasak, menyapu lantai, mencuci perabot dapur dan lain-lain terkecuali mandi. Aku mandi sambil mencuci pakaian lagi karena mencucinya hanya tiga baju aku tidak lama mandinya dan langsung pulang. Setelah lama aku duduk di lantai dan aku melihat kakakku datang dari Cigaclung. Dan aku juga melihat teh Nur Azizah dan teman-temannya yang lain sudah pada datang dari Baduy. Setelah waktunya maghrib aku berwudhu dan shalat maghrib bersama-sama dengan keluargaku.

Malam Senin

Setelah pukul 07.00 banyak saudaraku ke rumahku karena akan menonton pilm Saijah Adinda yang disukai oleh para ibu yang pernah dengar pada jaman dahulu. Setelah lama anak-anak Taman Baca Multatuli dipanggil ke panggung. Lalu teman dari Semarang akan memperlihatkan poto-poto yang ia ketahui seperti poto Gunung Krakatau, Penari Jawa, dll.

Lalu ia yang namanya itu Tomast Titus Kurniawan dan Mbak Ester akan meminta lima belas anak untuk permainan menempel stiker dan aku juga ikutan. Setelah di panggung aku mendapat poto Henry James Woodbury beserta anak dan istrinya. Lalu setelah itu menempel stikernya di kepala sang ayah aku menempel stiker warna merah, di anaknya warna hijau, dan istrinya warna kuning.

Lalu setelah itu ia menanyakan kenapa aku menempel stiker yang tiga warna itu dan aku menjawab karena aku suka warna yang mirip pelangi itu. Setelah selesai aku pulang dan menyimpan poto itu. Lalu aku menonton drama yang hari Jumat itu dimainkan dan sekarang sudah muncul di layar, cepat juga ya!

Dan aku melihat teman-temanku menontonnya di depan layar, padahalkan kalau lama-lama menonton di depan layar itu akan merusak mata lebih baik agak kejauhan nontonnya. Dan aku menonton di branda di sebelah kanan rumahku, di sana kelihatan jelas sekali dan di sana juga sudah banyak saudaraku yang menonton di sana dan aku juga bergabung dengen mereka. Lalu setelah lama aku menonton pilm Max Havelaar dan Saijah Adinda aku pindah ke kamar. Di kamar ada Nani yang lelap tidur.

Pukul 12.13 Nani bangun karena mungkin tidak nyaman tidurnya karena mantelnya/jaketnya basah oleh pipisnya. Lalu aku membuka celana dan kaus kaki Nani dan katanya Nani itu mau melihat kerbau yang ada di layar. Dan aku mengajaknya ke luar dan di sana juga ada Ibu Nani, Enun, dan Jasti. Jasti itu sepupunya Enun. Selesai pilm Max Havelaar lalu aku balik lagi ke kamar dan duduk di atas ranjang. Aku langsung tidur.

Friday, September 9, 2011

Catatan #5 Cerita Si Dedi Kala tentang Multatuli

Dedi Kala:

[Kelas VIII SMP Negeri Satu Atap 3 Sobang. Dedi Kala berperan sebagai harimau yang menerkam kerbau Saijah. Saat malam hari, Dedi Kala menjadi salah satu pembaca puisi dengan kacamata bercahaya. Dia agak nyentrik, suka memakai wig. Ini catatannya.]


Hari Jumat tanggal 13 Mei tahun 2011

Hari ini aku dan teman-teman mengadakan drama Saija Adinda. Aku ini menjadi harimaunya dan teman-temanku ini ada yang jadi si Saijah, Adinda, Unah, Kanteh, Ema Saijah, Bapak Saijah. Alah pokokna mah ramai sekali. Dan jadi aku merasa senang begitu. Pada lucu-lucu pokoknya.

Hari ini sangat…sangat senang sekali. Dan juga mau jalan-jalan ke Rangkasbitung. Wah, sangat senang, tapi kan aku suka mabok. Makanya terserah.

14 Mei bulan 5, 2011

Saya makan bersama teman-teman saya di Pendopo. Wah, pokoknya mantap! Di situ ada bacaannya Aula Multatuli. Di situ banyak pepohonan. Ada pohon mangga dan pohon bamboo. Dan pohon rambutan. Banyak pokoknya.

Sesudah itu saya diperintahkan kumpul di Aula Multatuli oleh Mas Sigit. Aku telah melihat Suryati katanya dia pusing. Dan tadi kami diperintahkan berhenti oleh polisi.

Saya telah melihat Kabupaten Lebak. Aula Multatuli itu baru beberapa tahun. Yang kecil adalah gedung Pendopo. Yang besar adalah gedung Negara. Yang satu adalah gedung Kabupaten Lebak dan juga ada foto-foto Multatuli di belakang rumah. Tiangnya ada 4 dan ada kamarnya. Ada kasurnya juga. Gedung arsip di belakang gedung DPRD.

Rumah ini mirip dengan rumah Multatuli. Yang ada nama-nama bupati. 1. Pangeran Senjaya alias R. Djamil, 2. Tumenggung Prawirakusumah, dan lain-lain. Jendelanya gede-gede. Nama gedung pemerintah Kabupaten Lebak. Dulu dipakai oleh Adipati Karta Nata Nagara.

Sekarang saya mau ke rumah Multatuli di belakang RS Adjidarmo. Saya menuju ke alun-alun Multauli. Di situ ada juga kantor pos. Saya telah sampai ke alun-alun Multatuli. Lapangan Multatuli sering dipakai sepakbola.

Dan saya mau menuju ke rumah sakit. Ada juga menara masjid. Ada juga gedung DPRD. Yang di depan lapangan ada Jalan Multatuli sampai ke sungai Ciujung. Rumah sakit Adjidarmo di depannya ada klinik Multatuli. Mau masuk ke rumah Multatuli. Yang asli hanya ada temboknya saja. Sekarang sudah tidak dipakai lagi. Sudah dijadikan gudang semen.

Sudah itu saya lanjut ke Jalan Multauli. Ada juga orang Serpong yang ikut ke Ciseel. Namanya Vito. Ayahnya Pak Natsir. Di jalan Multatuli juga ada penjara. Panjang jalan itu sekitar 1000 meter. Di jalan ada SD Multatuli. Ini SD Multatuli.

Terdiri dari 5 sekolah. Yang masuk pagi 3 SD dan yang masuk siang 2 SD. Disebutnya Kompleks SD Multatuli. Jalan Multatuli No. 22 Rangkasbitung. Namanya Bapak Jaya Sunjaya sebagai kepala sekolah. Umurnya 93 tahun. Anaknya 5. Yang 4 sudah rumah tangga. Yang satu masih sekolah di SMA yang paling kecil.

Ada juga kantor polisi jembatan sungai Ciujung. Warnanya kuning. Ada juga BRI Multatuli. Jembatan sungai Ciujung ada dua. Satu untuk mobil dan sepeda motor. Satu untuk rel kereta api. Luasnya sekitar 30 meter. Juga airnya dalam sekali.

Di situ aku bertemu orang gila. Di situ juga ada gereja. Tempatnya umat Kristen beribadah. Ada Bapak Herman yang akan cerita adanya dari apotek Multatuli. Dari tahun 90-an. Pendiri apotek Multatuli ini Pak Suandi. Buka jam 7 pagi sampai jam 9 malam.

Sesudah itu kami berhenti di perpustakaan Saijah Adinda. Di situ saya diberi minum oleh ibu-ibu. Saya tidak tahu namanya.

Sekarang aku tahu namanya. Namanya ibu itu ibu Neng. Bukanya dari jam 8 sampai jam 3 sore. Yayasan Saijah Adinda. Kalau hari jumat setengah hari. Rata-rata pengunjung sehari 10 orang. Ini perpustakaan bebas bisa untuk masyarakat. Berdirinya tanggal 20 November 1992. Tadinya di Jalan Letnan Muharam. Setiap bulan Oktober suka diadakan lomba. Seperti lomba calistung dan lomba puisi. Pegawainya di situ ada 5 orang.

Minggu 15 Mei 2011

Kami bersama teman-teman telah sampai di Baduy. Dan saya telah melihat orang sedang menutu padi. Dan di situ saya telah melihat leuit. Jumlahnya ada 40 buah. Di situ saya digonggongin anjing loreng yang galak. Lalu saya melihat rumah orang Baduy.

Setelah itu saya pulang menyeberangi sungai Ciujung dengan Pak Acang, Pak Ubai. Pokoknya banyak saya nggak tahu namanya satu-satu. Sesudah itu saya menuju ke Cijahe bersama teman-teman. Setelah sampai di Cijahe kami diceramahin pemuda Cijahe. Tapi aku nggak. Saya bilang, “Mas…mas sudah belum ceramahnya?” Dia malah senyum.

Di situ saya naik mobil dan berangkat pulang. Di mobil kepala saya pusing. Dan nggak kuat nahannya. Saya sambil menahan pusing saya ini tidur di dalam mobil. Saya bangun-bangun di Ciminyak. Teman-teman pada ngebakso. Sebenarnya saya ingin bersama teman-teman tapi kepala saya ini pusing. Saya ini nggak jadi ngebakso. Di situ lanjutin lagi perjalanan untuk menuju jalan pulang ke Ciseel.

Saya telah sampai di Pondok Raksa. Saya melihat Ahyar yang sedang muntah-muntah karena dia itu mabok. Dia diberi air oleh Sujatna untuk mencuci muka. Setelah itu saya melihat ke timur. Indah sekali. Kata teman-teman indah sekali. Kami mau menuju ke Rasamala atau ke lapangan Karang.

Sampai di situ saya dan teman-teman turun. Kami terus jalan untuk menuju kampung Ciseel. Dan saya sampai di Ciseel jam 07.25 malam. Setelah datang ke rumah saya tidur. Saya bangun jam 08.35. Lalu saya mandi malam. Mandinya itu kayak bebek. Lalu saya menuju ke tempat acara untuk menggairahkan badan. Saya nonton film. Lalu tertidur di panggung sendirian. Aku bangun jam 05.00.

Aku pulang ke rumah. Di rumah tidur lagi dan bangun jam 07.00 pas. Lalu saya pergi ke sekolah. Mereka kembali lagi ke rumah. Eh, ternyata hari ini libur nasional. Aku tidak tahu libur apa ini. Wah, hati saya senang sekali. Makasih.

Catatan #4 Melihat Alun-alun Multatuli

Dede Andriawan:

[Kelas V SD Negeri 2 Sobang, berperan sebagai Wiranatakusumah--perampok kerbau rakyat Lebak. Termasuk kerbau ayah Saijah.]


Jumat tanggal 13 Mei

Pada hari Jumat saya sangat gembira. Karena Pak Ubai akan mengadakan permainan drama Saijah Adinda. Saya sangat semangat sekali. Kata Pak Ubai jam satu aka nada sulap yang ditampilkan oleh Mas Sigit. Mas Sigit hebat sekali. Dia menampilkan beberapa sulap yang lucu sekali.

Sudah itu kata Pak Ubai jam dua dimulai drama Saija Adinda. Pas jam dua kami siap-siap berangkat ke kantor MI. Pas waktu itu saya yang jadi Demang Wiranatakusumah. Pasukan Demang (Ada Azis, ada Heri, ada Herman, ada Suana, ada Asri, ada Dadang). Semuanya enam orang. Juragan Demang sering mencuri kerbau Saijah dan lain-lainnya.

Yani menjadi Saijah kecil. Aliyudin menjadi Saijah besar. Suryati menjadi Adinda kecil. Pipih menjadi Adinda besar. Sujatna menjadi Bapak Saijah. Nurhalimah yang menjadi ibunya Saijah. Cecep menjadi Kanteh. Radi yang menjadi adiknya Adinda. Sumarna yang menjadi Ngkoh. Irman yang jadi Tuan.

Elah yang jadi nenek. Sumyati yang jadi Perempuan 1. Rohanah yang jadi Perempuan 2. Pasukan Belanda: 1. Sangsang, 2. Yani, 3. Sanadi, 4. Tomi, 5. Suardi. Yang jadi komandan, Sangsang.

Pas waktu itu kami sangat gembira. Karena Mas Sigit yang foto kami terus dimasukan ke film. Terus kami pulang ke rumah. Terus saya makan nasi. Ada tahu, ada tempe, ada ikan, ada telur. Makanan itu enak sekali. Sesudah makan saya main di jalan. Terus kami ke air.

Malamnya ada acara. Ada yang membaca kisah Semut Pekerja, ada juga yang menceritakan kerbau. Ada juga dangdut Pak Kosim. Malamnya itu sangat cerah sekali.

Saya dan teman-teman sangat semangat. Pas malam saya membeli bakso di ibu Anah. Baksonya enak. Ada bihun. Ada saledri. Ada mi dan airnya. Sesudah makan bakso saya mencari teman-teman saya yang namanya Azis. Tidak ketemu. Terus saya ngantuk. Terus saya ke rumah. Kata ibu saya minum dulu. Terus saya tidur.

Sabtu tanggal 14 Mei

Pas saya bangun teman-teman saya udah pada kumpul. Katanya mau yoga di ujung tanjakan. Lalu Mas Sigit memimpin kami yoga. Lalu Mas Sigit main yoga. Kami kepala di bawah kaki di atas. Saya nggak bisa. Teman-teman saya juga tidak bisa. Hanya satu yang bisa. Hanya yang bernama Tomi. Dia sangat luar biasa.

Setelah saya yoga kata Pak Ubai cepat mandi. Sebelum berangkat ke Cangkeuteuk harus makan dulu. Saya makan dengan telur. Terus berangkat ke Cangkeuteuk.

Di jalan saya dan teman-teman saya makan pisang goring. Pas datang ke Cangkeuteuk pas kami sedang menunggu. Ada salah satu orang Cangkeuteuk berkata, “Hey, anak-anak semuanya,” kata orang tadi “mobilnya tidak ada di sini. Adanya di Cengal.” Terus saya jalan. Sangat capek. Kami di jalan banyak istirahat. Pas datang ke Cengal mobil sudah menunggu.

Kata sopir, “Hey, adek-adek mana gurunya? Sudah di jalan ya?” Kami menunggu guru sambil mencatat buku perjalanan sehari-hari. Pas datang guru semuanya naik mobil. Terus berjalan. Pas sampai ke Ciminyak kami berhenti. Pak Ubai membeli minuman di took Hj. Ipah.

Kami naik ke mobil. Pas datang di ujung Ciminyak kurang mobil. Terus mencari lagi mobil satu. Sudah itu mobilnya ada. Saya turun pindah ke mobil ke satu. Terus kami berjalan lagi. Di jalan kami menyanyi bersama dengan Mas Sigit. Mas Sigit membeli permen RELAXSA. Saya diberi lima RELAXSA.

Pas di jalan kami ditangkap polisi. Guru-guru semuanya turun. Komandan polisi bicara kencang ke Mas Daurie sambil bertunjuk-tunjuk. Kata Mas Daurie “Hey bapak jangan begini-begini ya… adek-adek kami sedang mencatat buku perjalanan ke Rangkasbitung. Bapak juga dituliskan sama adek-adek kami!”

Kata polisi, “Ya, boleh dituliskan tapi jangan yang jelek ya... yang bagus saja.” Ya. Anak-anak tidak akan menuliskan yang jelek-jelek. Setelah itu naik lagi ke mobil pas datang ke Rangkas.

Saya melihat ke Aula Multatuli. Kami makan bersama-sama. Sudah makan saya mencuci tangan. Terus saya istirahat. Sambil menulis buku catatan perjalanan. Terus kami berjalan menuju rumah Multatuli. Saya melihat Rumah Sakit Adjidarmo.

Saya melihat alun-alun Multatuli. Banyak orang yang main. Pas datang ke rumah Multatuli ada orang yang marah-marah sama Pak Ubai. Kata Pak Ubai, “Mas jangan marah-marah. Kami mau ke rumah Multatuli.” Kata orang itu, “Ya, boleh.”

Saya melihat rumahnya tinggal ada dindingnya saja. Di rumah Multatuli isinya banyak sampah. Kata Mas Sigit, “Rumah ini sudah tidak diisi. Cuma diisi sampah saja.” Terus kami berjalan lagi ke sungai Ciujung. Pas datang ke sana ada orang gila. Orang gila itu mengusir kami. Terus kami jalan lagi menuju ke pasar terus ke apotek Multatuli.

Pas sampai di sana saya membeli apel 3 membeli jeruk 5. Saya belanja itu 11 ribu doing kok. Saya makan apel 1 makan jeruk 2. Apel 2 jeruk 3 diambil ke rumah untuk adik saya. Terus saya jalan lagi menuju perpustakaan Saijah Adinda.

Pas di sana kata Pak Ubai, “Masuk.” Terus saya masuk dan istirahat. Mas Sigit membeli gorengan untuk anak-anak. Saya makan dua. Dan berjalan lagi menuju pulang ke Aula Multatuli. Pas di Aula Multatuli saya ke toilet.

Sudah itu kami naik mobil menuju Ciseel. Mau pulang. Saya melihat gunung. Melihat kambing. Melihat mobil. Melihat motor dan melihat rumah mewah. Pas datang ke Ciminyak mobil berhenti.

Katanya mau jalan ke Rasamala. Jalan lagi ke Rasamala. Pas datang ke Rasamala kami semua turun dari mobil. Terus jalan. Pas jalan hujan turun besar. Saya melewati air besar sekali. Pas datang ke Ciseel saya tidur.

Minggu tanggal 15 Mei

Pas saya bangun tidur. Saya kaget ternyata sekarang mau ke Baduy. Saya mandi terus saya makan. Terus saya minum. Sudah minum saya bersiap-siap. Terus berjalan menuju Rasamala. Saya dan Aliyudin naik motor ke Ciminyak. Saya dan Aliyudin terus naik mobil. Terus jalan.

Pas datang ke Cijahe mobil berhenti. Saya turun dan teman-teman saya. Terus saya makan. Sudah makan minum. Terus istirahat. Jalan menuju Baduy. Sudah pulang di Baduy naik mobil lagi menuju Ciseel. Pas datang ke Ciseel malamnya nonton film Max Havelaar.

Catatan #3 Jalan-jalan Multatuli

CONI:

[Kelas VIII SMP Negeri Satu Atap 3 Sobang, peserta menyusuri jejak Multatuli]

Jalan-jalan ke Multatuli Rangkas

Saya dari Ciseel. Jalan ke Cangkeuteuk. Sudah di Cangkeuteuk ada tukang ojek. Kata tukang ojek mobilnya tidak bisa ke Cangkeuteuk. Kata tukang ojek itu maaf ya kalian harus jalan lagi ke Cengal. Saya sudah jalan ke Cengal dan ada mobil yang sedang menunggu.

Terus saya naik mobil sampai Ciminyak. Di Ciminyak turun menunggu Pak Ubai membeli air minum. Terus saya naik lagi ke mobil. Mobilnya jalan lagi sampai ke Rangkas.

Kata Pak Ubai kita istirahat dulu. Terus makan bersama. Sudah makan kita keliling ke rumah Multatuli. Di rumah Multatuli banyak buku. Buku-buku yang sudah rusak.

Sesudah dari rumah Multatuli lalu ke jalan Multatuli. Lalu ke kantor SD. Di Kantor SD istirahat.

Jalan-jalan ke Baduy Cikeusik

Saya dari rumah jalan ke Rasamala. Di Rasamala saya melihat orang yang lagi main sepak bola. Sudah di Rasamala saya naik mobil dan mobilnya langsung jalan ke Ciminyak. Di Ciminyak berhenti nunggu teman yang naik ojek.

Sudah di Ciminyak naik mobil lagi. Mobilnya jalan sampai Cijahe. Sudah di Cijahe saya jalan kaki nyampe Baduy. Di Baduy ada orang yang bertanya dari mana. Dan saya jawab dari Ciseel.

Di Baduy banyak rumah. Rumahnya tinggi. Tidak bisa dibedakan dengan rumah kita. Dan pintunya ada yang pakai kayu sebesar tangan.

Catatan #2 Tentang Perjalanan Multatuli

Ano Sumarna:

[Kelas VI MI Al Hidayah Ciseel, Ano memerankan Babah di Rangkasbitung yang membeli keris pusaka Ayah Saijah. Selamat mencicipi lagi. ]

Jumat, 13 Mei 2011

Pada hari Jumat kami nonton sulap. Mas Sigit yang sulap. Dia ahli sulap. Terus berangkat ke lapangan MI. Di sana main drama. Saya menjadi Babah. Jajat menjadi Bapak Saijah. Dan semuanya. Irman menjadi Tuan waktu Saijah bekerja. Saijah ingin pulang. Tuan marah-marah. Saijah tetap pulang.

Yani jadi Saijah kecil. Waktu dia memberi sobekan rombal. Suryati jadi Adinda kecil. Waktu ditinggalkan Saijah ke Batavia. Kami bermain drama dengan sukses dan lancer.

Ameng jadi maung (harimau). Waktu Saijah dengan kanteh. Si Ameng lari ke kerbau. Kerbaunya mau nyeruduk. Si Ameng lari ke sisi. Terus Mbak Esther mau memoto maung itu.

Kami kumpul ke tengah lapangan. Pak Ubai memperkenalkan kami satu per satu. Sekian hari Jumat.

Sabtu, 14 Mei 2011

Pada hari Sabtu saya bangun pagi terus kumpul ke rumah Kang Sarif. Tidinya Mas Sigit muncul dari rumah. Membawa pengeras suara. Suara itu di sini aku tulis: Ole…ole…ole… ole…ole…ole…ole…ole….ole. Yoga. Yoga. Yoga.

Sampai di Cipari. Saya dan teman-teman. Yang pertama gerakan pohon. Di sini disingkat. Yang terakhir kepala di bawah. Kaki di atas. Saya mandi dengan teman-teman. Lalu pulang ke rumah. Siap-siap jalan ke Cepak Gentong. Sampai di situ pukul 07.00. Di situ kami nungguin Pak Ubai sampai pukul 07.30. Terus berangkat sampai di tungturunan Situ Badriyah banyak orang nebang pohon. Dan pohon awi itu jatuh ke jalan kami lewat.

Terus sampai di Ciminyak mobil berhenti. Mengecek kami. Membeli air dus. Sampai di jalan, kami berhenti lagi. Pak Ubai mencari sopir mobil itu. Kami kepanasan di mobil dan kami kesal. Terus jalan lagi. Kami senang banget.

Di jalan kami melihat beko. Beko itu dibawa oleh mobil. Mobil kami nyalip mobil yang membawa beko itu. Akhirnya kami sampai di jalan ke Rangkas. Di jalan itu kami dipegat polisi. Polisi itu membawa dua sopir. Terus Mas Daurie dan teman-temannya turun. Mas Daurie ngomong ke kepala polisi itu. Kepala polisi itu namanya Pak Sadimun.

Terus saya berangkat lagi dengan teman-teman menuju Rangkas. Sampai di Rangkas saya makan bersama dengan teman. Seru sekali. Saya masuk ke Aula Multatuli dengan Dede, Sangsang, Azis. Saya menaiki tingkat pertama. Lantainya keramik.

Saya menaiki ke ketiga. Itu tempat berbincang-bincang. Saya ke gedung Multatuli. Terus saya ke rumah sakit. Di belakang rumah sakit ada dinding rumah Multatuli. Zaman dulu hingga sekarang adanya dinding saja.

Terus jalan ke Klinik Multatuli. Saya ke dalamnya dengan semangat. Dan teman-teman juga semangat. Lalu jalan lagi ke Jalan Multatuli. Itu panjangnya satu kilometer. Saya sampai di ujung Jalan Multatuli ada jembatan dua. Yang satu untuk mobil dan motor dan yang satu lagi untuk kereta api. Di jalan kereta api ada seseorang menyeberang. Itu kan bahaya.

Di bawah jembatan itu sungai Ciujung. Warna airnya kuning. Sangat menyeramkan. Sungai Ciujung itu lebar dan di situ ada orang gila. Dia sangat galak dan dia menghadap ke air Ciujung. Dan dia mengusir kita semua. Dan kita takut dia menimpuk kita semua. Terus balik lagi ke sekolah Multatuli. Di sekolah itu ada kantin. Saya membeli 3 botol minuman dingin. Sangat sejuk. Dan saya mencuci tangan di situ. Di situ ada masjid dan kamar mandi. Kepala sekolahnya namanya Pak Jaya Sunjaya. Dia punya anak lima. Pak Jaya Sunjaya urang kampung dan ngumbara di situ. Dia punya istri dan punya anak lima.

Saya berangkat ke perpustakaan Saijah Adinda. Kita semua di situ niis dan makan bakwan diberi oleh Mas Sigit. Mas Sigit itu baik sekali. Kalau dia naik mobil kadang-kadang dia menyanyi.

Terus balik lagi ke Rangkas. Saya melihat lapangan basket.

Jalan-jalan sudah sampai jam 4 sore. Saya pulang dan teman-teman kehujanan. Dan kami pun terus berjalan dengan lancer sampai di pom bensin. Mobil anu ditumpangan saya berhenti terus membeli bensin. Kami pun berjalan lagi dengan senang. Sampai di jalan saya melihat pohon kelapa sawit. Kelapa sawit banyak sekali dan rapi. Membaris ke belakang dan ke kiri dan ke kanan. Buahnya pun sangat banyak-banyak. Buahnya dibawa karena sudah dipanenin sama yang punya.

Sampai di pasar saya membeli dua apel. Yang satu punya adik saya dan yang dua punya saya. Harga satu apel 3.000. Saya membeli 6.000. Terus ngebakso. Semangkok 5.000 saya sampai kenyang. Terus pulang sampai lapangan Cikadu. Di jalan banyak yang bilang sama kita: Mbeee….

Sampai di lapangan Cikadu saya dan teman-teman turun dan pulang ke rumah. Cukup di sini hari Sabtu. Terima kasih.


Minggu, 15 Mei 2011

Saya bangun pagi. Saya mandi. Saya ganti baju dan berangkat ke Cikadu. Sampai Cikadu saya berangkat lagi ke Cepak Sawah. Saya melihat yang membawa karet terguling. Hampir saja saya kena. Dan saya berangkat lagi ke lapangan Cikadu. Di sana sudah ada mobil dua.

Saya melihat ada yang main bola di lapangan Cikadu. Saya dan teman-teman berangkat ke Rasamala. Sampai di Ciminyak mobil berhenti. Saya membeli semangka sepasi seribu dan manisan seribu. Terus berangkat lagi. Di jalan saya melihat pohon kelapa sawit yang luas kebunnya.

Diloncat.

Sampai di Cijahe saya makan bersama dengan teman-teman. Saya melihat ada orang Baduy sedang memagari kebunnya. Bapak dan anak-anaknya. Saya dan teman-teman istirahat sebentar di rumah orang Cijahe dan minum air dus enak sekali. Saya berangkat ke Baduy kampungnya.

Saya dan teman-teman melewati jembatan bambu dibuat oleh orang Cijahe. Jembatan itu kokoh dan kecil. Maju sendiri kalau berdua tidak maju. Saya berangkat lagi ke atas gunung. Di jalan kami bertemu orang membawa rumput. Mang Acang sudah tahu jalan ke Baduy.

Kami di belakang dan Mang Acang di depan. Kami nuturkeun Mang Acang. Sedikit lagi sampai di atas. Saya dan teman-teman melihat ke bawah. Di bawah ada sungai Ciujung yang sangat licin. Saya langsung turun sampai di sungai Ciujung itu. Saya buang air besar dan Jajat, Dede, Unang, Coni.

Kami ketinggalan. Kami berlima. Saya melihat orang sedang nutu padi. Saya terus berangkat ke sisi rumah panggung orang Baduy. Saya bertemu lagi dengan teman-teman saya. Pak Ubai ngobrol dengan orang Baduy. Dia bisa bahasa Indonesia. Kami melihat pu’un. Kami dilarang ke situ. Pu’un itu adalah ketua atau pemimpin.

Pu’un kalau sakit seminggu dia langsung diganti. Kalau tidak diganti dia langsung mati. Yani dan Tomi keliling. Dia melewati langgaran itu. Dia di marahi dan digonggongi anjing orang Baduy. Dia lumpat ke kami.

Kami melihat tempat numbuk padi. Dan Pak Wawan ketawa karena dia melihat kucing rebut. Kami pun pulang ke jembatan bambu buatan orang Baduy itu. Dan talinya dari ijuk. Tapi kokoh. Kami balik lagi ke Cijahe.

Sampai di jalan kami kehujanaan. Kami berteduh di saung. Saung itu penuh sesak. Dan jalannya pun licin. Sampai di Cijahe kami kembali ke mobil. Mobil kami hampir terguling saat nanjak. Namun selamat.

Kami sampai di Ciminyak. Saya naik motor dengan adik ibu saya. Saya datang ke rumah jam 05.55.

Malamnya saya nonton film Max Havelaar. Seru deh. Cukup sekian.

Catatan #1 Sastra Multatuli—Ulang Tahun Membaca Max Havelaar

ALIYUDIN:

[Kelas IX SMP Negeri Satu Atap 3 Sobang, pemeran Saijah dewasa saat drama berlangsung]

Jumat, 13 Mei 2011

Jam sebentar lagi menunjukan jam 14.00 berarti saya harus siap-siap untuk melakukan drama. Lalu saya bikin keris-kerisan sama Sanadi di depan rumahnya. Ketika sudah selesai saya pulang ke rumah dan ternyata Mas Sigit sudah memulai acara dengan sulap di panggung. Ketika saya menonton ternyata sudah sedikit lagi yang akan disulapkannya.

Setelah selesai, Pak Ubai mengumumkan bahwa drama Saijah dan Adinda akan segera dimulai. Tempatnya di lapangan MI Al Hidayah Ciseel. Lalu kami ke sana bersama warga juga yang mau menonton.

Ketika sudah sampai acara langsung dimulai. Ketika saya sudah mulai masuk dan ketika menangis, saya menangis benaran. Dan setelah selesai dramanya saya langsung pulang dengan teman-teman. Dan hujan mulai turun walaupun kecil. Setelah sampai ke taman baca saya kumpul-kumpulkan barang yang dipakai alat drama. Lalu saya istirahat. Terus pulang. Lalu mandi.

Setelah mandi lalu ganti baju. Terus bermain. Tidak lama kemudian waktu maghrib telah tiba. Saya sembahyang dulu. Setelah sembahyang saya keluar lagi. Terus main lagi.

Dan tidak lama kemudian acara mala mini sudah mulai. Dan acaranya adalah ada sambutan, gegendeh, ngagondang, cerita semut pekerja, puisi Saijah 4 bahasa, yaitu bahasa Sunda, Indonesia, Belanda, Inggris. Lalu diskusi. Terus kosidahan. Terus organ rombongan Pak Kosim. Setelah selesai acara saya ngecas HP dulu untuk besok. Karena ada acara menyusuri jejak Multatuli di Rangkasbitung. Dan ada yoga karena HPnya mau dibawa untuk foto-foto. Setelah selesai lalu saya pulang. Terus baca doa. Lalu tidur.

Sabtu, 14 Mei 2011

Waktu saya bangun tidur saya tidak langsung mandi. Karena hari ini ada acara olahraga di pinggir kali atau disebut juga dengan “yoga”. Saya Cuma cuci muka saja. Setelah itu saya kumpul bersama dengan teman-teman di depan taman baca. Terus ada pengumuman dari Mas Sigit.

Setelah pengumuman terus berangkat ke tepat yoganya. Dan tempatnya juga sangat jauh. Dari sini sekitar satu kilometer. Dan setelah sampai semuanya kami langsung mulai. Dan pada gerakan terakhir ada gerakan kaki di atas kepala di bawah. Dan gerakan itu pun bisa menyembuhkan sakit kepala.

Setelah selesai kami langsung pulang kecuali para tamu karena mereka mau mandi dulu. Setelah datang ke rumah saya ambil sabung. Terus mandi, gosok gigi. Setelah selesai langsung pulang ganti baju. Terus ambil kartu peserta ke taman baca, mengambil buku tulis, terus balik lagi ke rumah. Persiapan untuk berangkat ke Rangkasbitung.

Ketika kami berangkat saya ditinggalkan teman-teman. Setelah sampai ke Cangkeuteuk ternyata di sana ada teman-teman yang nungguin. Dan beberapa kemudian HP saya berbunyi. Pas saya angkat ternyata yang nelphon adalah Siti Nurhalimah. Dia memberitahu kami kalau mobilnya itu nunggu di Cengal.

Setelah itu kami berangkat lagi. Ketika sampai di Cengal ternyata mobilnya sudah menunggu kami dari jam 07.30 WIB sampai kami datang semuanya. Sesudah sampai semuanya kami langsung berangkat. Ketika sudah naik mobil semuanya tempat duduknya sangat sempit. Dan itu pun masih ada yang nunggu di Sakilo. Dia di antaranya, Mas Sigit. Karena mereka itu salah jalan. Seharusnya jalannya belok kiri mereka malah lurus.

Ketika mobil sampai ke Kampung Sakilo, Mas Sigit pun sudah menunggu. Terus mereka langsung naik dan mobil pun tambah sempit. Setelah itu kami berangkat lagi dan sesudah sampai ke Ciminyak di depan took Hj. Ipah mobilnya berhenti lagi. Ternyata Pak Ubai mau mengambil dus air dulu di took itu. Setelah dinaikkan tempat duduk di mobil menjadi tambah sempit lagi.

Lalu kami berangkat lagi. Ketika datang di salah satu kampung mobil berhenti lagi. Ternyata Pak Ubai mau mencari mobil lagi karena mobilnya terlalu sempit. Pas mencari sopirnya di rumanya ternyata sopirnya lagi ke kebun. Tapi saya tidak tahu, entah sopirnya ada yang ngasih tahu, entah tidak. Dan tak lama kemudian sopir yang dicari-cari datang. Terus kami berangkat lagi dengan satu mobil tambahan. Di perjalanan kami bernyanyi, mengarang puisi keadaan alam, bagi-bagi makanan. Dan di perjalanan pun kami tidak kesal atau ngantuk karena Mas Sigit selalu bercanda terus di mobilnya.

Ketika sudah melewati Sajira dan kami lagi asyik-asyik bercanda. Eh mobilnya berhenti lagi. Terus kata Mas Sigit, “Ada apa mobil berhenti lagi?” Pas kami lihat ke depan mobil ternyata ada rajia kendaraan mobil motor. Terus sopir kami dipanggil. Terus polisi minta uang. Lalu Pak Ubai bicara, “Gak usah minta uang karena kami mau ke Rangkas, mau jalan-jalan di alun-alun Multatuli, dan di sekitarnya.” Terus polisi bicara lagi, “Apakah sudah memiliki izin?” Pak Ubai jawab lagi. “Sudah!” Terus Mas Daurie datang mau foto polisinya. Tapi polisi malah marah sambil menunjuk-nunjuk Mas Daurie. Tapi Mas Daurie tidak mau kalah. Dia balik marah, “Pak, Bapak jangan nunjuk-nunjuk kayak gini dong. Itu tidak sopan!” Polisi langsung tambah jarinya jadi lima. Jari yang dipakai tadinya kan cuma pakai telunjuk doang.

Setelah itu Mas Sigit bicara, “Pak kami mau ke Rangkas bawa anak-anak. Dan anak-anak pun di perjalanan sambil menulis kejadian apa yang telah terjadi. Tapi kami mau minta nama bapak untuk ditulis. Boleh kan, Pak?”

Jawab polisi yang namanya Pak Sadimun, “E… boleh…boleh… tapi yang baik-baik aja ya!”

Setelah itu Mas Daurie minta maaf. Lalu polisi juga minta maaf. Terus mereka bersalam-salaman. Lalu mereka kembali ke mobil. Terus berangkat lagi. Dan di perjalanan pun Mas Sigit sama Mas Husni selalu membicarakan soal itu. Dan sambil nyanyi-nyanyi atau sambil bercanda. Dan di mobil pun tidak terasa. Beberapa lama kemudian kami telah sampai ke Rangkas.

Lalu kami turun terus masuk ke Pendopo. Dan rencananya mau makan. Setelah selesai makan kami membersihkan sampah bekas makanan. Lalu kami main sambil foto-foto di sekeliling gedung Bupati Lebak. Terus istirahat. Lalu disuruh kumpul di depan Pendopo oleh Mas Sigit. Terus kami disuruh mengeluarkan alat tulis. Lalu kami keluarkan. Terus kami mencatat apa yang telah terjadi dan apa yang diumumkan oleh Mas Sigit dan Pak Ubai.

Pak Ubai mengatakan, “Bahwa kita akan segera mulai jalan-jalan ke alun-alun, Rumah Sakit Adjidarmo, ke Rumah Multatuli, dan sebagainya.” Tidak lama kemudian kami mulai berangkat. Pertama ke alun-alun. Kata Pak Ubai, “Alun-alun tempat bermain dan lain-lain.” Yang kedua ke Rumah Sakit Adjidarmo. Terus ke Rumah Multatuli. Dan ternyata sudah lebih 150 tahun yang lalu masih ada dinding rumahnya. Yang lain sudah diganti dan dijadikan gedung.

Setelah itu kami ke Jalan Multatuli yang panjangnya sekitar satu kilometer. Dan di ujung utaranya ada Sungai Ciujung. Dan di ujung selatannya ada gedung Bupati Lebak, Pendopo, Aula Multatuli, dan Alun-alun Multatuli.

Di tengah perjalanan di Jalan Multatuli kami mampir dulu ke SD Multatuli. Setelah sampai Pak Ubai menunjukan kalau mau cuci muka di mana, kalau mau shalat di mana.

Setelah itu ada salah seorang guru yang menerangkan soal SD Multatuli. Namanya Bapak Jaya Sunjaya. Dia mengatakan, “Nama SD Multatuli itu diambil sejarahnya saja. Terus kepala sekolah di sini ada 5 kepala sekolah. 3 perempuan dan 2 laki-laki. Dan sekolahnya pun di dua kalikan. Pagi dan sore. Dan di kompleks SD Multatuli ini ada 6 SD. Ada SD 1, 2, 3, 4, 5, 6. Dan lokasinya di sebelah timur Jalan Multatuli.”

Setelah selesai menerangkannya kami istirahat sebentar sambil jajan di kantinnya. Sesudah cukup istirahatnya kami keluar lagi mau menuju ke jembatan dua yang ada di Sungai Ciujung dan di ujung Jalan Multatuli. Setelah sampai di sana sungainya masih saja keruh. Seperti yang ada di novel Max Havelaar kalau Sungai Ciujung itu berwarna kuning dan di sungai inilah kalau ada yang lapor kalau kerbaunya hilang pagi-pagi orangnya sudah ngambang di Sungai Ciujung. Dan kami pun menikmati keadaan di sana. Ketika kami melihat ke Sungai Ciujung ada orang gila yang ngambek sama kami karena kami disangka melihatnya. Dia sendiri dan di Sungai Ciujung ada dua jembatan. Yang satu jembatan kendaraan motor, mobil, dll. Yang satunya lagi jembatan untuk kereta api. Setelah itu kami balik lagi ke Jalan Multatuli. Sekitar 15 menit dari Sungai Ciujung kami belok kiri karena kami mau ke Apotek Multatuli.

Ketika telah sampai lalu kami duduk di luar dan kata salah seorang petugas di apotek yang nyuruh kami untuk duduk di dalam. Lalu kami masuk terus duduk sambil istirahat. Setelah itu ada salah seorang petugas yang mau bicara untuk menerangkan Apotek Multatuli.

Dan dia mulai berkata, “Apotek ini mulai berdiri sekitar tahun 90-an. Apotek Multatuli didirikan oleh Bapak Suandi dan bukanya dari jam 07.00 pagi sampai jam 21.00 malam. Dan nama Multatuli untuk mengenang sejarah Multatuli.”

Setelah selesai bicaranya, kami istirahat dulu. Dan dia namanya Bapak Herman—salah seorang petugas dari Apotek Multatuli.

Sesudah istirahat kami jalan lagi untuk menuju Perpustakaan Saijah dan Adinda lewat Jalan Hardiwinangun. Jadi kami ini memutar/mengelilingi Rangkas. Kalau tadi lewat Jalan Multatuli kalau sekarang lewat Jalan Hardiwinangun. Setelah sampai kami langsung masuk lalu istirahat di dalam dan ada yang menunggu perpustakaannya dua orang. Satu perempuan satu laki-laki. Yang perempuan namanya Bu Eneng, yang laki-laki saya tidak tahu.

Ketika saya sedang nulis-nulis, ada Mas Sigit bawa makanan. Pas saya mau ambil satu, Mas Sigitnya sudah keluar untuk mengambil makanannya. Terus saya keluar untuk mengambil makanannya. Setelah itu saya nulis lagi. Setelah selesai saya lihat-lihat keadaan di sana terus kami tanya-tanya pada Bu Eneng. Setelah selesai kami minta pamit untuk balik lagi ke Pendopo.

Setelah pamitan kami semua keluar dan jalan lagi menuju tempat semula. Di perjalanan kami semua kehujanan. Lalu kami mampir dulu di halaman rumah orang dan cuma sebentar saja hujan mulai reda. Terus saya lari duluan dari yang lain menuju Pendopo. Setelah sampai saya beres-beres persiapan untuk pulang. Setelah beres-beres saya ikut Pak Ubai ke toilet. Saya kencing dulu dan cuci muka. Setelah selesai saya keluar lagi balik ke Pendopo.

Saya duduk dulu di Pendopo. Setelah kumpul semuanya kami berangkat lagi untuk pulang. Dan seperti biasa di jalan kami sambil bercanda sama Mas Sigit walau pun hujan mulai turun lagi. Kami tetap semangat di perjalanan. Mobil belok kanan menuju ke pom bensin. Lalu ngisi bensin dulu. Setelah selesai kami pun berangkat lagi. Hujan pun ada deras ada kecil. Waktu pun tidak terasa. Tidak lama kemudian kami sampai juga ke Ciminyak. Lalu mobil pun berhenti. Terus kami turun. Lalu saya beli bakso tiga bungkus untuk di rumah. Satu untuk saya dan dua untuk adik saya. Tapi orang tua saya tidak dibelikan. Setelah dibungkus saya bayar. Lalu di masukkan ke tas. Terus saya naik lagi ke mobil.

Semuanya sudah kumpul lagi. Kami langsung berangkat lagi tapi tidak lewat Cengal. Tapi kami lewat Rasamala. Lewat Cengal jalannya sangat jauh. Tapi kalau lewat Rasamala jalannya lumayan dekat.

Ketika sudah sampai di Rasamala kami semua turun ketika hujan juga turun. Dan hujan sangat lebat dibandingkan yang tadi. Walaupun hujan sangat lebat tapi kami sangat asyik dan semangat. Beberapa teman dijemut untuk naik motor. Tapi saya dan kawan-kawan bersama tamu dan Pak Ubai jalan kaki. Setelah sampai di Cikadu, saya menunggu Pak Ubai dan teman-teman yang lain. Bersama kawan-kawan dan ada Mas Sigit, Mas Husni, dan Mbak Ita. Sudah cukup lama nungguinnya. Kata Mas Sigit, “Ayo, kita jalan lagi. Ubai kita tinggal saja karena pasti sudah hapal jalan sini.”

Lalu kami jalan lagi tapi kami tidak lewat jalan yang biasa dipakai jalan motor. Tapi kami lewat jalan setapak karena lewat jalan sini agak dekat. Ketika kami sudah nyeberang Sungai Ciminyak Mas Sigit dan Mbak Ita tidak kelihatan. Terus kata Mas Husni, “Kita bagi dua saja. Yang tiga nunggu Mas Sigit di sini. Yang tiga lagi pulang bareng dengan saya sekarang!” Lalu kami ikutin kata-kata Mas Husni. Setelah itu saya ikut pulang dengan Mas Husni dan Ajat dan Dede—adik saya. Dan yang nungguin Mas Sigit ada Sanadi, Tomi, dan Yani.

Hari pun sudah malam ketika sampai ke Kampung Ciseel. Ketika sampai ke Kampung Ciseel Mas Husni bertanya, “Kita sudah datang belum ke Kampung Ciseel?” Lalu saya jawab, “Sudah.” Mas Husni bertanya lagi, “Tapi ke taman baca masih jauh?” Saya jawab lagi, “Sekitar 3 menit lagi. Sudah dekat.”

Ketika sudah sampai ke depan rumah, saya tidak berhenti tapi saya lurus mengantarkan barang-barang belanjaan istri Pak Ubai juga Mbak Ita dan Mbak Endah. Ada tahu, tempe, mi instan, dan lain-lain. Setelah sampai lalu saya kasih. Terus saya pulang lagi ke rumah. Sampai di rumah saya buka baju lalu mandi.

Setelah selesai lalu saya makan bakso yang dapat beli di Pasar Ciminyak bersama adik saya. Setelah itu saya main ke panggung acara sambil ngecas HP. Tidak lama kemudian acara dimulai. Terus saya nonton. Dan acaranya pun drama, diskusi Mas F. Rahardi dan Mas Ragil dan Pencak Silat. Dan saya menonton sampai selesai.

Selesai acara saya pulang terus siap-siap tidur. Karena besok mau ke Baduy. Jadi bangunnya harus pagi-pagi karena ke Baduy lebih jauh daripada ke Rangkas. Lalu saya baca doa. Lalu tidur.

Minggu, 15 Mei 2011

Ketika saya bangun tidur, tiba-tiba di dapur ada yang memanggil, katanya: “Yudin…Yudin bagun sudah siang!” Ternyata yang memanggil ibu saya. Lalu saya jawab, “Iya, Bu.” Terus saya bangun lalu keluar dari kamar tidur. Terus cuci muka. Saya tidak langsung mandi karena hari ini juga katanya mau diadakan yoga lagi.

Setelah itu saya keluar dari rumah. Ternyata di luar sudah banyak teman-teman yang nungguin saya. Lalu saya dan teman-teman ke taman baca. Pas sampai di sana Pak Ubai mengatakan bahwa hari ini tidak ada yoga sebab harus berangkat lebih pagi. Saya dan teman-teman pun kembali ke rumah. Saya langsung ambil sabun terus mandi lalu gosok gigi terus pakai handuk terus balik lagi ke rumah.

Saya persiapkan apa yang harus dibawa. Setelah itu saya menunggu di luar. Terus bapak saya memanggil. “Kalau mau bawa motor, bawa saja sebab yang lain juga ada yang bawa!” kata bapak saya. Ketika bapak bilang begitu saya bingung. “Kalau saya bawa motor saya sangat kasihan sama yang jalan kaki. Tapi kalau saya tidak bawa motor yang lain juga pada bawa motor dan terus jalan kakinya juga sangat jauh dan nanjak lagi dari Kampung Cikadu sampai ke Rasamala.”

Lalu saya putuskan untuk membawa motor. Saya keluarkan motornya dari rumah. Terus dipanaskan dulu dan tidak lama kemudian Pak Ubai mengajak saya untuk segera berangkat dan sambil bertanya, “Ali mau bawa motor?” Lalu saya jawab, “Iya, pak.” Terus Pak Ubai bilang lagi, “Kalau begitu Pak Ubai duluan ya?” Lalu saya jawab lagi.

Tidak lama kemudian saya berangkat. Di perjalanan saya ajak adik saya, Dede. Setelah itu saya saya jalan lagi. Rencananya saya lewat Cangkeuteuk tidak lewat Rasamala karena saya bawa motornya hanya sampai Ciminyak. Tidak langsung di bawa ke Baduy. Dan saya menunggunya di Ciminyak saja.

Ketika saya sampai di Ciminyak saya langsung titipkan motor di warungnya Ma Emur. Terus saya balik lagi ke pinggir jalan terus ke perempatan jalan di Ciminyak dan ternyata di sana sudah ada Ka Endang. Ka Endang habis mengantarkan salah seorang tamu yang pulang hari ini. Tamu dari Jogja dan namanya Mas Ragil Nugroho.

Terus ada yang datang lagi Sarman dan Fahrur Roji memakai motor. Kami di sana tidak terasa lama menunggu karena sambil bercanda. Tidak lama kemudian mobilnya datang. Terus berhenti lalu saya naik dan ternyata yang lain pun pada turun. Mereka berbelanja makanan. Dan Pak Ubai kembali memasukan dus air minum ke truk seperti kemarin. Lama menunggunya sekitar 30 menit.

Di perjalanan saya lihat ternyata banyak yang membawa motor. Di antaranya ada Ka Sarif, Wawan, Mulyadi, Sarman, Pak Kosim, dan yang lainnya. Mereka pada menyalip mobil yang dinaiki oleh kami. Dan hari ini pun banyak teman yang tidak ikut karena kecapekan pada hari kemarin dari Rangkas. Namun banyak juga yang ikut dari orang tua.

Di perjalanan saya melihat orang Baduy sedang berjalan sendirian. Perjalan ke Baduy ini lebih jauh daripada ke Rangkas. Saya di perjalanan tertidur karena ngantuk. Kan semalam saya menonton pencak silat. Jadi tidurnya pun agak malam.

Setelah sampai ke Cijahe saya dan lainnya istirahat dulu sebentar. Terus makan di halaman rumah orang Cijahe tempat kami istirahat. Setelah makan kami beres-beres. Terus ada pengumuman dari Pak Ubai. Juga penjelasan dari Mas F. Rahardi dan Mas Kurnia Effendi tentang menulis catatan perjalanan. Setelah itu kami langsung berangkat. Ketika mau berangkat saya melihat Pak Acang pakai pakaian orang Baduy. Dan tidak pakai sepatu atau sandal.

Terus saya berpikir “Mengapa Pak Acang pakai baju seperti itu dan tidak memakai sandal.” Tapi yang pasti kami kan mau ke Baduy. Jadi saya pikir Pak Acang berpakaian seperti itu karena dia sudah tahu bagaimana keadaan di Baduy.

Di perjalanan saya sangat lelah. Kecapekan karena perjalanan sangat jauh. Tapi walaupun lelah, capek, saya tetap semangat karena baru kali ini saya ke Baduy. Lalu saya bertanya kepada Pak Usman karena Pak Usman juga ikut ke Baduy. “Pak Usman masih jauh nggak perjalanannya?”

“Nggak. Dekat lagi tuh di bawah di sana.” Kata Pak Usman sambil menunjuk ke kebun. Lalu saya bertanya ke Pak Ubai. Pak Ubai lalu menunjuk ke perkampungan yang kini sudah kulihat.

Lalu kami menyeberang sungai Ciujung yang mengalir sampai ke Rangkas. Ternyata sungai Ciujung yang ada di Baduy ini airnya tidak kuning, tidak keruh, tapi masih jernih.

Setelah sampai di Kampung Cikeusik atau Baduy Dalam, Pak Ubai langsung mengajak kami menghitung jumlah tempat menyimpan padi atau leuit. Lalu masuk ke perkampungannya. Dan di sana halamannya sangat bersih karena di sana tidak seperti di kampung kita ada jalan kendaraan.

Ketika sampai masuk ke kampungnya ternyata orang-orangnya sudah pada ke kebunnya masing-masing. Kampungnya sangat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang menunggunya dan pu’unnya atau bisa dikatakan ketuanya. Lalu kami periksa-periksa keadaan di sana dan foto-foto. Dan di Baduy juga ada salah seorang dari mereka yang pandai berbahasa Indonesia walaupun agak bercampur dengan bahasa Sunda. Dia bercerita tentang keadaan di sana. Menerangkan apa yang kurang tahu bagi kami. Namanya Ayah Narpah. Terus ciri-cirinya orang Baduy itu memakai dedamping, ikat kepala, tidak beralas kaki, dan mematuhi laranga-larangan yang mereka adakan. Oleh mereka itu dipatuhi dan salah satunya adalah tidak boleh mendekati rumah pu’un. Juga tidak boleh makan hewan berkaki empat, tidak boleh ada kendaraan, dsb.

Setelah cukup lama kami memeriksa keadaan di sana kami pulang lagi lewat jembatan. Tujuan kami ke Baduy tapi ke Kampung Cikartawana dan ke Cibeo. Dan setelah saya memerhatikan jembatannya. Ternyata jembatan sangat kuat walaupun bahannya cuma bambu dan tali. Dan jembatannya juga pakai variasi di lengkungan di tengahnya. Terus saya jalan lagi. Pas datang ke perempatan Cijahe, Cikeusik, Cikartawana hujan mulai turun dan langsung lebat.

Terus kami berhenti di salah satu saung di Baduy. Sambil nungguin hujan reda. Setelah agak reda kami langsung mau jalan lagi ke Cikartawana. Tapi Pak Ubai melarangnya sambil bicara, “Hai, tunggu dulu. Tungguin yang belum datang!”

Ada seorang tamu yang ngomong, “Kang Ubai saya mah mau nunggu di Cijahe saja. Saya tidak akan ikut ke Cikartawana.” Terus Pak Ubai bilang, “Ya, kita tunggu yang lain dulu.” Pas datang langsung ditanya ternyata yang baru datang juga sudah kelelahan terus mau pulang aja. Lalu Pak Ubai juga memutuskan untuk tidak jadi ke Cikartawana dan ke Cibeo karena perjalanan masih jauh juga hujan. Apalagi kita kan nanti malam akan nonton film Max Havelaar. Terus aku kecapekan dan kami bersorak-sorai karena tidak jadi ke Cikartawana. Walau tidak jadi ke sana saya dan teman-teman tetap semangat. Saya jalan lagi ke arah pulang. Di perjalanan saya dan lainnya sambil bercanda. Dan setelah sampai ke Cijahe kami langsung masuk rumah untuk istirahat. Dan istirahatnya cukup lama sebab kami habis jalan sekitar satu setengah kilo ke Cikeusik. Terus pulang lagi ke Cijahe satu setengah kilo.

Setelah kumpul semuanya kami langsung pulang. Dan di mobil pun saya dan Oji ketiduran sampai Ciminyak. Dan diperjalanan saya tidak tahu apa-apa karena saya tidur di sepanjang jalan. Setelah sampai di Ciminyak ternyata waktu menunjukan jam 05.00. Lalu saya ambil motor dari rumah Ma Emur. Terus istirahat lalu berangkat lagi untuk pulang dan jalan pun sangat licin. Saya bawa motor sangat hati-hati karena takut jatuh.

Sampai ke rumah jam sudah menunjukan 05.48. Terus saya masukin motor ke rumah. Terus istirahat dan cerita-cerita pada orang tua. Terus orang tua saya cerita bahwa rumah di Baduy tidak boleh lebih dari 40 rumah. Kalau pun membuat rumah cuma nambah rumah orang tuanya.

Waktu maghrib pun tiba tapi saya belum mandi. Dan saya masih mau istirahat. Ketika sudah pukul 06.30 saya baru mandi. Setelah itu saya ganti baju. Terus saya pergi ke taman baca dan naik ke panggung. Tidak lama kemudian acar dimulai dan ternyata tidak langsung nonton film. Namun masih ada acara sambutan, menerangkan foto-foto zaman dulu dan penutupan acara dari hari Jumat hingga Minggu malam Senin. Dan setelah itu baru nonton film. Sebelum nonton film Max Havelaar ternyata diputarkan dulu film drama Saijah Adinda yang dipentaskan pada hari Jumat sore.

Penonton pun sangat ramai ketika ditayangkan drama Saijah Adinda. Setelah selesai lalu memutar film Max Havelaar. Ketika selesai ternyata waktu sudah sangat malam. Lalu dilanjutkan film setan. Terus film Wiro Sableng yang dikenal dengan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Setelah itu saya pulang ke rumah dan langsung masuk kamar terus tidur.