Tuesday, March 20, 2012

Catatan #21 Bakso yang Kedinginan

Catatan Nuraenun
[Kelas V MI Alhidayah Ciseel]

Jumat, 13-05-2011

Pagi-pagi aku bangun pukul 05.10 WIB aku langsung mandi lalu memakai baju kaos, menyisir rambut lalu memakai kerudung lalu aku sarapan pagi setelah itu memasukkan buku ke dalam tas tidak lupa bawa air putih lalu memakai sepatu setelah itu aku berangkat ke sekolah tiba di sekolah aku bermain bersama teman-teman setelah itu bel masuk berbunyi aku langsung masuk ke kelas lalu ketua kelas menyiapkan lalu kami berdoa setelah itu kami mulai pelajaran kesatu dan kedua selesai bel istirahat berbunyi dan kami keluar kelas dan kami bermain lagi bersama teman-teman beberapa saat kemudian bel pulang berbunyi kami semua pulang ke rumah tiba di rumah aku mengucapkan salam kepada ibu dan mencium tangan ibu setelah itu aku ganti baju lalu makan siang setelah makan siang cuci piring.

Pada pukul 01.15 aku langsung mandi karena akan ada drama Saijah Adinda setelah mandi aku ke rumahnya Elah setelah itu kami ke depan panggung melihat sulapnya Mas Sigit aku sangat senang melihatnya.

Setelah semuanya siap kami berangkat ke kantor. Tiba di sana Pak Ubai memperingatkan yang ikut drama harap ke kelas satu untuk mempersiapkan Suryati memakai kebaya dan sarung karena dia adalah Adinda kecil dan Yani yang jadi Saijah kecil Pipih jadi Adinda yang sudah besar dan Yudin yang jadi Saijah besar dan aku adalah yang bermain kucing-kucingan.

Drama pun dimulai kami memasuki lapangan lalu mulai bermain kucing-kucingan. Setelah itu si Unang memberi tahu bahwa kerbau Saijah dibawa oleh demang, dll. Ceritanya sangat banyak aku sampai tidak sadar bahwa cerita dramanya sudah selesai. Setelah dramanya selesai kami pun pulang.

Sabtu, 14-05-2011

Pagi-pagi aku bangun pukul 05.25 aku langsung mandi lalu menggosok gigi selesai mandi aku nyamperin Elah setelah itu kami berangkat yoga di sana teman-teman yang lain sudah siap lalu kami dan teman-teman berangkat yoga tiba di sana Mas Sigit mulai gerakan-gerakan selesai yoga lalu kami pulang siap-siap untuk berangkat. Aku membawa tas lalu mengambil kartu peserta setelah itu kami berangkat menuju Cangkeuteuk katanya mobilnya menunggu di sana sesampainya di sana ternyata mobilnya tida ada dan ada yang memberitahu bahwa mobilnya berada di Cengal jadi terpaksa kami ke Cengal di perjalanan kakiku sakit ternyata kakiku lecet lalu aku meminjam kaos kaki kepada Nuraeni tapi masih sakit jadi kaos kaki itu aku berikan kepada Nuraeni dan sepatu itu terpaksa aku pegang tiba di tanjakan aku ketinggalan karena aku sudah tak kuat untuk berjalan jadi aku jalannya pelan-pelan aja sesampainya di aspal baru mobilnya tidak ada jadi terpaksa kami jalan kaki lagi sesampainya di pertigaan kebun ternyata mobilnya berada di sana aku langsung naik sambil nungguin Pak Ubai datang.

Sambil menunggu Pak Ubai datang ada yang mau membeli permen dulu, ada yang menulis dan ada yang duduk-duduk. Karena aku tidak membeli permen dulu aku membeli permen ke Si Irman karena dia membeli permen banyak. Setelah itu Pak Ubai datang lalu kami mulai berangkat tapi ternyata mobilnya berdesakan. Ketika mobilnya ngebut kami semua menjerit karena mau jatuh jadi aku duduk saja karena duduk itu lebih aman ketika sampai di Sajira mobilnya diduakan karena terlalu berdesakan setelah mobilnya berjalan lagi aku duduk lagi ada yang menyanyi dan ada yang bersorak gembira ketika sampai di Kopi tiba-tiba ada polisi lalu Pak Polisi memberhentikan mobil dan Pak Ubai langsung turun. Dan kata Pak Polisi, “Ini mobil barang jangan dipakai manusia.”

Setelah itu kami berangkat lagi lalu tiba di aula Multatuli kami beristirahat sejenak lalu makan siang bersama aku makan siangnya dengan Mariah, Elah, Ucu, dan Herti. Tapi Herti tidak mau makan katanya perutnya mual kami mencoba merayu tapi Herti tidak mau lalu Mas Sigit menghampirinya kata Mas Sigit, “De, kamu kenapa?” Herti tidak menjawab lalu Mariah yang menjawab katanya dia mual dan tidak mau makan lalu Mas Sigit mengambilkan minyak kayu putih lalu dioleskan kepusernya dan setelah itu kami sudah kenyang dan Herti tidak mau makan siang lalu kami beristirahat sebentar.

Ketika kami jalan-jalan Mbak Esther mengajak kami foto bersama. Setelah itu kami berangkat lagi untuk berkeliling aku membawa pulpen dan buku.

Kami semua berkeliling aku melihat anak-anak menyanyi lalu kami terus berjalan kami tiba di rumah Multatuli yang dulu ketika melihat ke dalam aku sangat terkejut melihat di dalamnya banyak sampah serta buku-buku bekas dll.

Setelah itu kami jalan lagi lalu kami sampai di SD Multatuli kepala sekolah SD Multatuli adalah bapak Jaya Sonjaya ketika Elah menulis di bangku yang ada di halaman sekolah anak-anak berteriak Kak ada kotoran kata anak-anak itu. Lalu aku membeli dulu di kantin sekolah SD Multatuli. Setelah itu kami berjalan lagi lalu sampai di Bank BRI terus kami jalan lagi lalu ada kantor pos kami terus jalan lalu kami sampai di Sungai Ciujung jembatan dua yang satu jembatan kereta airnya berwarna kuning di sana ada orang gila ketika dia melihat ke arah kami matanya melotot kami lari ke Pak Ubai lalu kami meneruskan perjalanan aku melihat apotek Multatuli didirikan bapak Suandi di sana aku membeli strawberry lalu kami meneruskan perjalanan kami sampai di perpustakaan Saijah Adinda aku duduk sebentar lalu aku keluar lagi lalu aku duduk di teras ketika aku melihat kakiku ternyata kakiku lecet.

Aku membuka plastik strawberry untuk mencoba dan Elah aku beri ternyata rasanya asam lalu kami melanjutkan perjalanan lagi tiba-tiba hujan turun kami lari. Aku hampir ketinggalan karena kakiku sakit lalu aku membuka sandalku aku mengejar teman-teman akhirnya sampai juga di aula Multatuli aku istirahat sebentar setelah istirahat dan hujan sudah reda kami pulang lalu naik mobil lagi di perjalanan kami bernyanyi tiba-tiba hujan turun lagi kami memasang terpal lalu aku memegang terpal. Kerudungku kotor kena terpal aku dan Elah tidur lalu kami sampai di Ciminyak aku membeli bakso dulu lalu kami naik lagi tiba di lapangan Cikadu lalu kami turun karena mobilnya tidak bisa ke Cikadu karena hujan sangat deras. Bibirku membiru karena dingin teman-temanku ada yang menjemput pakai motor. Aku terus berjalan bersama Ucu, Mariam, Herti, dan Iis tiba di sungai kami berhenti sejenak lalu aku menyeberang sungai aku hampir jatuh karena dingin dan gelap karena sudah malam lalu tiba di sebuah rumah kami berhenti dulu lalu jalan lagi tiba di sawah bapak menjemput membawakan payung katanya Herti juga membawa payung sesaat kemudian hujan reda aku memberikan payung kepada bapakku.

Lalu aku sampai di rumah di sana ada adikku, Nani, Jasti, ibu dan Kak Mulyana. Dia adalah adik ibu dan juga Jasti aku langsung mandi dan setelah mandi aku ganti pakaian lalu membuka tas dan kami memakan strawberry dan kue yang aku beli di pasar. Lalu aku tidur sejenak lalu dibangunkan oleh ibu untuk makan aku makan bakso yang kedinginan saat aku kehujanan setelah makan aku tidur lagi.

Minggu, 15-05-2011

Pagi-pagi aku bangun pukul 05.25 WIB

Aku langsung mandi dan ganti baju setelah ganti baju merapikan tempat tidur lalu mengasuh adik. Aku tidak ikut ke Baduy karena kakiku sakit aku melihat teman-teman yang ke Baduy lalu aku mengasuh adikku sambil bermain ke rumahnya Elah ternyata Elah juga tidak ikut dan juga Elis perempuan yang sepantaran denganku yang ikut hanya Arsiah.

Setelah sore aku mandi lalu memakai baju setelah itu aku ke terasnya Iis lalu aku ke rumahnya Elah, setelah beberapa saat yang di Baduy sudah datang lalu azan maghrib lalu aku pulang ke rumah berwudhu setelah itu aku shalat maghrib lalu mengaji setelah itu keluar rumah aku melihat film waktu drama lalu melihat film Max Havelaar aku tidak melihat sampai selesai karena ngantuk aku pun tidur.

Catatan #20 Dari Ciseel Menuju Aula Multatuli

Catatan Siti Nurajizah

[Kelas VIII SMPN Satap 3 Sobang]

Di Ciseel menuju Cengal

Pada hari Sabtu aku akan study tour bersama guru-guruku dan kawan-kawanku. Di rumah berangkat pukul 07.30. Aku di jalan lihat pohon-pohon. Berangkatnya tidak bersama-sama. Ada yang naik motor dan ada juga yang berjalan kaki. Dan pada waktu itu aku berjalan kaki. Di jalan kami ngobrol-ngobrol dengan salah satunya, Aliyudin, Suryati, dan Ajis.

Datanglah Pipih dan Rohanah tapi dia naik motor. Suryati dan Ajis ikut bersamanya. Dan pada waktu itu aku hanya ditemani oleh Aliyudin. Di sanalah aku jalan. Kakiku terasa pegal-pegal karena kecapekan.

Di jalan pas dekat lagi ke kampung Cangkeuteuk aku bertemu dengan teman yang lainnya. Dan katanya jalannya sampai datang ke Cengal. Aku jalan sampai datang ke situ. Dan alhmadulillah walaupun jauh tapi nyampe.

Menuju ke Aula Multatuli

Aku dan kawan-kawan naik mobil. Kami menyanyi dan bersuka riang. Pada hari Sabtu polisi ditugaskan memeriksa kendaraan-kendaraan yang lewat di jalan-jalan. Di situ mobil yang ditumpangi kami diberhentikan oleh Pak Sadimun. Pak Sadimun adalah salah satu polisi yang memberhentikan mobil yang ditumpangi kami itu.

Dan Pak Sadimun berkata, “Mobil barang tidak boleh ditumpangi oleh manusia karena tidak diwajibkan.” Dan selain bilang itu dia berkata lagi, “kalau kalian mendapatkan kecelakaan kami tidak mau bertanggung jawab atas kejadian yang mencelakakan kalian.”

Sesudah bilang gitu Pak Ubai dan yang lain turun dari mobil karena mau menyelesaikan masalah itu. Tapi Alhamdulillah atas kesabaran kami akhirnya masalah ini selesai dan kami semua selamat.

Catatan #19 Ketinggalan Saijah, Melihat Wiro Sableng

Catatan Tomi

[Kelas VII SMPN Satap 3 Sobang, berperan sebagai tentara Belanda dalam drama Saijah Adinda]

Pada hari Jumat sekitar pukul 5 aku bangun tidur. Setelah itu aku cepat mandi dan langsung mengganti baju. Setelah itu aku ke rumah Pak Ubai. Lalu aku main dulu di panggung. Setelah jam 14.00 aku dan teman-teman kumpul di rumah Pak Ubai dan juga teman-teman Pak Ubai. Setelah itu dipukullah bambu. Bambu yang di panggung itu sebanyak tiga kali.

Lalu group reading itu semuanya kumpul. Setelah itu aku dan teman-teman pergi ke kantor. Bapak-bapak dan ibu-ibu juga para anak kecilnya juga pada ikut. Lalu setelah itu aku dan teman-teman membawa alat-alat seperti keris, bedil, dan kepala harimau, dll.

Setelah sampai di kantor MI di sana sudah ada kerbaunya. Setelah itu aku bersiap-siap akan memulai drama. Sebelumnya aku jadi pedagang sisir. Lalu setelah itu aku tarung ceritanya. Lalu aku lihat ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang selalu ada yang memoto. Tapi aku padahal sedikit ada malunya sama penonton. Tapi aku lanjutkan aja drama itu. Lalu aku setelah lama aku jadi pasukan Belanda. Sebelumnya Yani menjadi Saijah kecil dan Suryati jadi Adinda kecil. Di dalam drama itu ada yang jahat dan ada yang menangis. Tapi ada para penjahat mencuri kerbau Saijah tapi setelah itu Saijah nanya sama bapaknya. Tapi ayah Saijah diam saja. Lalu Saijah nangis.

Setelah itu Dedi Kala yang jadi harimaunya. Ketika harimau itu mau memangsa Saijah tapi kerbaunya malah membelanya dan harimau itu mati terbunuh. Setelah itu aku menjadi pasukan Belanda. Tapi aku mengelilingi lapangan dulu sambil memegang senjata. Setelah itu aku berdiri tegak. Sambil aku berkata, “Serangggg!”

Eh, ternyata teman aku ditusuk perutnya oleh Saijah besar lalu bayonet dipasang dan Saijah besar itu dihantam oleh bayonet. Lalu dia itu mati. Lalu selesailah drama itu. Lalu kata teman-teman Pak Ubai semua pemain disuruh berdiri di lapangan. Lalu ada yang moto. Setelah itu berjabat tangan dengan teman-teman Pak Ubai. Sambil dikenalkan oleh Pak Ubai.

Dikenalkan siapa yang jadi Adinda kecil, Adinda besar, dan Saijah kecil, dan Saijah besar. Dan siapa yang jadi babah, pasukan Belanda, dan si Kanteh. Lalu setelah itu selesailah dramanya lalu sebelum pulang difoto dulu. Lalu aku pulang membawa lesung digotong dengan Yani. Lalu setelah sampai di rumah Pak Ubai aku mandi dulu. Tapi aku dan teman-teman diberi permen. Lalu setelah mau makan aku pulang ke rumah sama teman-teman Pak Ubai.

Setelah sampai di rumah aku mandi dulu. Lalu aku mengganti baju. Setelah itu aku makan dan minum. Setelah itu aku pergi ke rumah Pak Ubai. Lalu setelah malam ada acara-acara. Lalu setelah itu aku nonton. Eee, setelah itu aku beli bakso. Aku lalu nonton yang nyanyi, yang sulap, dan menggondang. Setelah itu aku dan teman-teman pulang ke rumahnya.

Setelah menjelang pagi aku bangun. Aku langsung mandi. Lalu setelah itu aku ke rumah Pak Ubai. Setelah di sana ada teman-teman yang sudah pada kumpul. Mau yoga. Lalu aku berangkat ke air Ciseel. Eh, setelah aku lihat ke belakang aku kasihan sekali kepada teman-teman Pak Ubai. Naik ke atas batu. Padahal aku pikir takutnya jatuh. Lalu tidak bisa pulang. Setelah sampai ke tempat yoga itu siap-siap dipimpin oleh Pak Sigit. Ada gerakan kepala di bawah kaki di atas. Lalu setelah selesai aku dan teman-teman dan teman Pak Ubai juga pada pulang. Setelah sampai di rumah aku siap-siap membereskan alat-alat yang mau dibawa. Membawa nasi, air, dan tas.

Setelah itu aku berangkat dengan teman-teman. Sampai di Cangkeuteuk ternyata mobilnya tidak ada. Jadi aku dan teman-teman harus jalan lagi ke Cengal. Setelah sampai di Cengal aku melihat teman-teman sudah di sana. Dan mobilnya juga sudah ada. Lalu aku di sana menunggu Pak Ubai dan teman-temannya. Sudah sampai jam delapan baru datang. Lalu berangkatlah mobil itu. Setelah di jalan aku melihat yang lagi bawa batu. Jalan lagi. Setelah itu menemkan yang lagi menggembala kerbau.

Ketika aku melihat ke sebelah kiri setelah Pasar Ciminya aku melihat ada orang gila lagi makan. Aduh, aku kasihan sekali sama orang gila itu. Lalu jalan lagi. Aku melihat banyak mobil. Setelah itu aku menemukan pohon kelapa sawit. Lalu jalan lagi. Eh, setelah jauh aku diberi makanan oleh teman Pak Ubai. Lalu kata Mas Sigit, “Nyanyi, nyanyi…” Siapa yang nyanyi diberi permen.

Setelah nyanyi aku lihat di depan mobilku ada polisi. Lalu mobil yang dinaiki kami itu disuruh berhenti. Lalu sopirnya itu dua orang disuruh ke tempatnya. Setelah di sana ditanya-tanya. Ternyata kata Mas Sigit, “Mencatat perjalanan. Boleh bapak dicatat?” “Boleh, boleh.” Siapa nama polisi itu. Bapak Sadimun.

Setelah lama di jalan kami sampai di tempat yang dituju. Setelah istirahat sebentar lalu membuka bekal. Setelah makan aku mengelilingi aula Multatuli. Ketika aku mencari-cari pemandangan. Aku melihat kucing, menemukan pohon mangga. Setelah aku balik lagi ternyata di sana ada rumah buatan Belanda. Kalau aku lihat ke dalamnya ada gambar-gambar, foto-foto, dan sebagainya. Setelah itu aku duduk di kursi.

Lalu aku bersiap-siap dengan teman-teman akan mengelilingi Rangkasbitung. Aku melihat ada rumah-rumah yang sudah busuk. Hanya sisa puing-puingnya saja. Setelah itu aku melihat lagi ada masjid agung. Di jalan Multatuli aku dan teman-teman nyanyi-nyanyi. Aku bertemu dengan anak kecil yang mau ke Ciseel. Namanya Vito. Di jalan Multatuli itu di kiri dan kanannya banyak sekali sekolah. Ada juga penjara. Lalu setelah capek di jalan Multatuli itu diberi permen oleh Mas Sigit. Jalan Multatuli itu panjangnya sekitar satu kilo.

Kami mampir di SD Multatuli. Lalu jalan lagi dan kami melihat kantor pos. Lalu jalan lagi dan sampai di jembatan sungai Ciujung. Setelah jalan lagi aku lihat ada gereja. Tempat beribadah orang Kristen. Lalu ada apotek Multatuli. Di depan apotek Multatuli ada duren yang sangat besar. Setelah aku keluar dari apotek aku membeli buah-buahan.

Jalan lagi sampai di perpustakaan Saijah Adinda. Lalu aku masuk dan minum. Ketika aku lihat di pinggirku ada kipas angin. Lalu Mas Sigit memberi kami gorengan. Lalu aku mengambil bakwan. Setelah itu aku pulang lagi dengan teman-teman. Ketika di mobil aku melihat seorang perempuan sedang naik becak. Badannya besar sekali. Dia sedang membaca buku.

Setelah itu aku kembali lagi ke aula Multatuli. Aku masuk ke wc lalu naik ke lantai atas dengan teman-teman. Lalu aku naik tangga lagi dan lagi. Sampai selesai dan aku lihat ada patung. Lalu aku lari sambil turun lagi. Setelah kumpul mau pulang ada petir keras sekali. Lalu aku naik ke mobil dengan teman-teman lalu aku mendengar bedug ashar.

Lalu terus sampai datang ke Rasamala. Lalu aku turun dan sampai di kampung Cikadu. Aku membawa mi dan kardusnya hancur karena hujan besar. Untung aku membawa tas besar. Maka mi itu aku masukkan ke tas aku.

Lalu setelah itu datang ke air. Ternyata Mas Sigit dan Ibu Ita belum ada. Lalu aku balik lagi. Lalu aku kembali lagi dan kegelapan. Untung ayah aku membawa lampu. Lalu aku pulang duluan.

Setelah sampai di rumah aku mengganti pakaian. Lalu aku mandi. Setelah istirahat aku ke rumah Pak Ubai. Lalu aku dan teman-teman melihat acara-acara. Ada ngegondang, ada yang baca puisi, dan ada yang lagi nyanyi. Lalu setelah itu aku tak kuat pengen tidur. Lalu aku tidur.

Jalan-jalan Menuju Baduy

Pada hari Minggu setelah aku bangun tidur sekitar pukul 06 aku dan teman-teman kumpul di depan rumah Pak Ubai. Sebelum berangkat aku pulang lagi mengganti sandal. Setelah itu aku dan teman-teman berangkat. Setelah sampai Cikadu aku mulai berjalan mendaki tanjakan yang panjang. Setelah sampai di Rasamala aku dan teman-teman melihat yang lagi main bola.

Lalu aku naik mobil. Setelah berangkat aku membaca basmallah. Setelah melewati Pondok Raksa di Ciminyak mobil berhenti dulu. Lalu teman Pak Ubai itu membeli salak sebanyak tiga kilo. Lalu jalan lagi ternyata belok-beloknya parah sekali. Setelah aku dan teman-teman datang ke Cijahe aku dan teman-teman mulai membuka timbel. Lalu aku makan dengan serius. Setelah makan lalu menuju Baduy.

Ternyata setelah aku mau menyeberang ternyata semua jembatannya terbuat dari bambu. Setelah sampai di Baduy aku dan teman-teman leuit. Leuit itu jumlahnya 35. Setelah itu aku melihat-lihat pemandangan. Ternyata ada anjing yang menggonggong. Aku lari dan mendengar kucing yang sedang bertengkar. Setelah itu aku pulang lagi.

Setelah di jalan aku dan semua teman mampir dulu di rumah orang Baduy. Lalu pulang. Sampai di rumah pukul 06.30 lalu aku mandi dulu. Setelah mandi aku makan. Eeh, aku ketiduran. Bangun-bangun jam 12. Lalu aku langsung ke rumah Pak Ubai ternyata aku ketinggalan film Saijahnya. Lalu aku hanya melihat Wiro Sableng.

Catatan #18 Rumah Gudang

Catatan Mariah

[Kelas VII SMPN Satap 3 Sobang, 13 tahun]

Jumat, 13 Mei 2011

Bangun pagi aku pukul 04.30 WIB. Aku langsung mengambil air wudhu dan shalat. Selesai shalat aku masak, mencuci piring, dan menjemur pakaian. Setelah semuanya selesai aku mandi lalu ganti baju dan sarapan pagi. Lalu berangkat ke sekolah. Tiba di perjalanan aku selalu curhat dengan teman aku. Dia teman yang paling baik dan juga selalu menemaniku di kala aku susah dan senang. Aku bahagia banget punya teman seperti dia. Orangnya cantik lagi.

Tiba di sekolah aku menghapal pelajaran BTA. Karena hari Jumat bagian pelajaran BTA. Setelah itu bel berbunyi kami semua langsung masuk ke kelas. Dan duduk di bangku masing-masing. Setelah habis pelajaran kami istirahat semua.

Setelah lama istirahat tiba semuanya pada bubar. Ternyata pada pulang. Terus aku dan temanku pada pulang semua. Tiba di rumah aku melihat Pak Ubai dan istrinya baru datang. Terus aku salaman ama Pak Ubai. Katanya, “Baru pulang Mariah”. Terus aku jawab, “iya, Pak.”

Tiba-tiba ada yang memanggilku. Ternyata si Fahruroji. Katanya si Ofi memanggil aku dan teman aku. Setelah tiba dekat aku, si Ofi mau mampir ke rumah aku. Lama sekali si Ofi dan temanku mampir di rumah aku. Sampai ketiduran. Karena nungguin si Yuyun. Setelah si Yuyun datang. Si Ofi dan temanku pulang ke kampungnya.

Tak terasa waktu semakin berptar. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB. Aku langsung masak. Setelah masak aku mandi. Aku tidak melihat teman-teman main drama karena aku sibuk banget. Maklum setiap hari aku selalu sibuk. Aku selalu membagi-bagikan waktu untuk belajar, masak, bermain, membaca, dsb.

Waktu maghrib telah tiba. Aku mengambil air wudhu dan shalat. Setelah shalat aku ganti pakaian. Dandan karena akan membaca puisi bahasa Inggris. Setelah selesai ganti pakaian aku langsung pergi ke rumah Pak Ubai. Dan di sana banyak semah (tamu) dari kota. Ada Mas Sigit, Mas Tommas, Mas Dori Bintang, dan lain-lain. Setelah itu acara pun dimulai.

Acara pembukaan yaitu membaca basmallah dan memukul kentongan. Dan yang kedua yaitu gegendeh. Acara ketiga yaitu aku dan teman-teman membaca puisi 4 bahasa. Ada bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Indonesia, dan bahasa Sunda. Setelah selesai kami mengucapkan terima kasih.

Kami pun turun dari panggung. Setelah itu aku melihat ibu-ibunya ngagondang. Aku tertawa melihat ibu-ibu itu. Setelah itu acara pun selesai. Aku pulang ke rumah dan langsung tidur. Sebelum itu aku selalu membaca doa dulu agar dalam tidurku tidak terganggu apa-apa. Aku pun tidur pulas dan mimpi indah.

Sabtu, 14-05-2011

Bangun tidur aku pukul 04.11 WIB. Aku langsung masak. Setelah selesai masak aku mengambil air wudhu lalu shalat. Setelah shalat aku menjemur pakaian dan mencuci piring. Setelah itu aku mandi. Sehabis mandi aku ganti pakaian. Dandan dan sarapan pagi. Aku persiapan karena mau berangkat ke Rangkas.

Aku berangkat dari rumah pukul 07. 30 WIB. Di jalan aku banyak sekali melihat orang-orang yang sedang kerja mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga. Setelah datang ke mobil aku istirahat dulu sebentar sambil menunggu teman-teman yang sedang di perjalanan. Tiba mereka di mobil aku merasa kasihan sama mereka. Semua mukanya pada merah-merah. Terutama pada adik aku. Aku kasihan sekali sama dia.

Setelah semuanya datang dan sudah beristirahat. Kami semua naik mobil. Lalu berangkat. Di perjalanan aku banyak sekali menemukan apa yang belum aku kenal. Aku melihat gedung walet. Dan aku juga melihat bekas rumah Ibu Iis waktu di Sangiang. Tiba di Sajira aku melihat banyak pohon kelapa sawit. Tiba di Sajira, tiba-tiba mobil yang kami tumpangi dicegat polisi. Polisi marah-marah karena mobil yang kami tumpangi ini mobil barang, katanya. Sopir mobil pun turun dari mobilnya dan membawa surat-surat mobil itu.

Dan semua wartawan pun turun dari mobil dan mereka langsung ngamera polisi itu. Tiba-tiba polisi itu memerintahkan sopir yang kami tumpangi supaya cepat pergi dari situ. Karena polisi paling nggak suka dikamera.

Tadinya polisi pikir mobil yang kami tumpangi ini gak ada wartawannya. Tapi ternyata ada. Eh, dia malah tunduk malu. Kami pun lalu berangkat lagi. Polisi yang memberhentikan mobil yang kami tumpangi itu namanya Pak Sadimun.

Tiba di Aula Multatuli. Di situ ada gedung negara, ada pendopo, ada gedung cagar budaya, ada gedung aula di sebelah. Di sebelah gedung aula ada foto-foto. Dan ada gedung yang bertiang 4. Di ruang ini ada kamar, kursi, dan kasur. Bila pejabat-pejabat menginap.

Pendopo pernah dipakai drama dari Bandung. Di sebelah gedung tiang 4 ini ada rumah-rumah tempat menginap orang-orang. Di tembok ada nama-nama bupati. Bupati pertama yaitu Pangeran Sanjaya alias Raden Jamil. Kedua, yaitu Adipati Karta Nata Nagara. Dan bupati sekarang H. Mulyadi Jayabaya.

Gedung pemerintah ada 21 ruangan. Dulu dipakai oleh Adipati Karta Nata Nagara. Yang kompleks pendopo katanya tegelnya masih asli belum diganti. Kami pun berjalan pelan-pelan menuju alun-alun Multatuli. Alun-alun Multatuli suka dipakai main bola dan juga suka dipakai main anak-anak TK. Waktu Multatuli masih ada di sini belum ada lapangan. Jalan Multatuli ini sampai Ciujung.

Dan kami pun mau menuju rumah sakit umum daerah Adji Darmo. Di depan rumah sakit ada klinik Multatuli. Dari klinik Multatuli menuju rumah sakit Adji Darmo. Dari rumah sakit menuju rumah Multatuli. Rumah Multatuli ini sekarang tidak dipakai. Hanya dipakai gudang. Di rumah Multatuli ada 21 kamar tapi tengahnya kosong. Dulu masih ada keramik aslinya. Tapi sekarang sudah diangkat. Dan ada teman kami yang ikut. Dia katanya mau ikut ke Ciseel. Dia namanya Vito. Dia ikut ayahnya.

Di sebelah Jalan Multatuli ada tahanan. Bila ada orang jahat dibawa ke rumah tahanan. Jalan Multatuli kira-kira 1 kilometer. Di sebelah jalan ada askes dan ada orang yang sedang jualan lukisan. Ada SMPN 4 Rangkasbitung. Ada Dinas Kesehatan. Dan ad ataman kanak-kanak.

Kami pun jalan pelan-pelan menuju SDN Multatuli. SD Multatuli ada di Jalan Multatuli. Namanya sekarang SD Ciujung Muara Barat. Kompleks Multatuli. Sekarang di SD Multatuli ada SD 1, SD 2, SD 3, SD 4, SD 6 Muara Ciujung Barat. Yang masuk pagi ada 2 SD dan masuk siang ada 3 SD. Secara kedinasan tidak ada Multatuli. Multatuli adalah sebuah sejarah. Kata kepala SD 6 Bapak Jaya Sunjaya. Umurnya 65 tahun. Tinggal di Kampung Pasir Jati, Keluarah Cijoro Lebak. Bapak Sunjaya sudah punya anak 5. Yang empat sudah berumah tangga dan yang ke-5 masih sekolah SMA. Bapak Sunjaya sudah punya cucu katanya. Kepala sekolah yang perempuan namanya Ibu Heti. Kepala SDN Muara Ciujung Barat I.

Kami pun berjalan pelan menuju apotek Multatuli, perpustakaan Saijah Adinda. Di Jalan Multatuli ada masakan padang. Di depan ada kantor polisi. Dan ada kantor pos. Di ujung jalan ada sungai Ciujung yang airnya warnanya kuning.

Kami sekarang menuju bank BRI. Dulu bank Multatuli sekarang diganti menjadi bank BRI. Dan sekarang kami mau menuju jembatan Ciujung. Di dekat Ciujung ada restoran Sari Indah namanya. Jembatan sungai Ciujung ada 2 jembatan 1 jembatan yang suka dipakai sepeda motor dan mobil dan 1 jembatan yang suka dipakai kereta api.

Sungai Ciujung sangat luas. Di jembatan kereta api ada orang yang sedang berjalan. Dan di bawah jembatan ada pemulung yang sedang memulung sampah yang ada di sekitar bawah jembatan. Pemulung itu sedang menangis. Aku kasihan sekali pada dia yang bernasib seperti itu.

Kami pun jalan pelan-pelan menuju apotek Multauli. Apotek Multatuli di Jalan Tirtayasa no. 30. Yang jaga apotek Multatuli ini namanya Herman. Berdiri apotek ini tahun 90. Dinamai Multauli karena mengenang sejarah Multatuli di Lebak. Apotek Multatuli didirikan oleh Pak Suandi. Di apotek Multatuli ini beberapa dokter, yaitu dokter bedah, dokter mata, dokter hati dan dokter THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan). Buka jam 7 pagi dan jam 9 malam tutup. Pak Suandi tertarik kepada Multatuli karena membaca novel Multatuli. Dekat apotek Multatuli ada kantor kepolisian, ada TK Kartika, dan ada rumah bersalin Ikhram.

Kami pun berjalan pelan-pelan menuju perpustakaan Saijah Adinda. Yayasan Saijah Adinda Rangkasbitung Kabupaten Lebak Banten. Pertama berdirinya perpustakaan ini tahun 80. Yang mengurus perpustakaan ini namanya Ibu Neng. Pengunjungnya dari TK sampai SMA dan mahasiswa. Buka jam 8 pagi sampai jam 3 sore. Bukanya hari Senin-Sabtu. Hari Jumat setengah hari. Banyak pengunjung 20-30 orang. Perpustakaan ini untuk SD dan mahasiswa paling banyak datang. Berdirinya 29 November 1992. Pertamanya di Jalan Muharam. Pegawai perpustakaan ini ada 6 orang yaitu Pak H. Dedi, H. Amin, Readi, Pak Imat, dan Ibu Neng, dan Pak Nono. Ketuanya Pak Dedi katanya.

Kemudian setelah itu kami semua pulang bersama. Sebelum pulang Mas Sigit wawancara dulu bagaimana menulis yang sudah kita temukan.

Minggu, 15-05-2011

Bangun pagi aku pukul 04.11 WIB. Aku langsung masuk setelah masak selesai. Aku langsung mengambil air wudhu dan langsung shalat. Setelah itu aku mandi sambil mencuci piring dan gelas. Setelah mandi aku ganti baju dandan dan sarapan pagi. Setelah sarapan pagi aku berangkat karena semuanya sudah berangkat.

Tiba di perjalanan ternyata teman-temanku semuanya pada naik motor. Hanya aku dan juga ada teman lain yang berjalan kaki. Aku sangat sedih. Tapi ada tamu yang berjalan denganku. Aku tidak tahu namanya. Dia tanya nanti aku mau jadi apa? Aku menjawab aku mau jadi guru bahasa Inggris. Dan aku juga bercita-cita menjadi penulis karena aku suka menulis. Aku suka menulis cerita setiap hari. Terus dia menjawab, ya, bagus, bagus. Kamu memang anak pintar anak baik.

Aku langsung naik mobil. Kepalaku pusing dan perutku mual. Aku ingin muntah. Aku padahal suah sarapan pagi. Tak terasa ternyata sudah sampai. Kepalaku terasa masih pusing. Tiba di rumah di Cijahe aku langsung berbaring. Di sana ada Pak Wawan. Setelah bertanya, Pak Wawa lalu memijit punggungku. Katanya aku mabuk kendaraan. Dan dia pun memberiku obat terus aku minum.

Aku tidak ikut jalan ke Baduy. Aku tidur di rumah di Cijahe. Kepalaku pusing sekali. Aku tidak tahu bagaimana rumah Puun Baduy. Dan aku pun tidak tahu bagaimana rupa puun itu. Tapi aku beruntung, ibu yang punya rumah bercerita tentang puun.

Katanya, puun itu kalau sakit. Kalau sudah seminggu katanya segera diganti. Karena puun kalau sakit langsung mati katanya. Aku pun mendengarkan ibu yang bercerita itu. Bahkan katanya banyak sekali orang yang berkunjung ke rumah puun dari rakyat biasa sampai presiden segala. Mereka meminta supaya apa yang mereka inginkan cepat terlaksana.

Bahkan waktu rumah-rumah penduduk Baduy kebakaran, bupati dan presiden menyumbang harta maupun benda. Bahkan uang yang disumbangkan itu mencapai miliaran rupiah. Bahkan kata presiden jalan yang menuju Baduy itu mau diaspal. Namun kata puun jangan. Maklum orang Baduy tidak suka dengan kendaraan kata ibu yang mengurus aku itu.

Setelah semuanya datang aku pun mau pulang. Ketika mau pulang karena aku mabuk, Pak Ubai berkata, Mariah kamu naik mobil saja di depan ya. Namun datang Pak Wawan, katanya Mariah jangan naik mobil lagi lebih baik naik motor dengan Pak Wawan. Supaya pulangnya lebih cepat. Ya, tidak apa kalau begitu tapi hati-hati ya Mar, kata Pak Ubai. Ya, Pak, jawab Pak Wawan. Di jalan aku tidur di motor di sepanjang jalan. Tiba-tiba aku dibangunkan. Mar bangun. Motornya mau diisi bensin dulu, kata Pak Wawan. Terus aku bangun dan turun dari motor.

Sekarang aku naik lagi dan aku tidak tidur sebab badanku kini sudah mulai nyaman lagi. Tiba di pasar aku berhenti dulu. Terus Pak Wawan membeli bakso dua mangkok yang satu untuk Pak Wawan dan yang satu lagi untuk aku. Aku makan bakso.

Sampai di rumah pukul 05.30 WIB aku langsung mandi langsung mencuci pakaian. Sudah mandi aku ganti baju dandan. Setelah itu aku melihat film layar sebentar. Aku melihat film Saija dan Adinda. Setelah itu aku pulang. Di rumah aku membaca buku cerita sebelum tidur. Hobiku membaca buku cerita. Hobi memang tidak bisa dihilangkan dari diri kita sendiri. Wassalam.